Kiai Syukri tersentak kaget.
“Tidak mungkin Kiai. Dia adalah anak tiri saya,” jawab Kiai Syukri penuh gemetar.

“Bukankah kamu belum pernah menyentuh ibunya? Dia belum menjadi mahrommu,” tegas Kiai Sofawi.
“Sambunglah nasab kemuliaanmu dengan menikahi keturunan Kiai Zaini itu, agar pesantrenmu semakin berkah,” sambung Kiai Sofawi.
Kiai Syukri tampak semakin bingung.
“Tapi, apa akan dikata orang nanti, Kiai? Mereka akan semakin mencemoohku. Menikahi anak sendiri itu sangat tidak lazim Kiai.”
“Kamu takut dicela orang? Kamu masih menuhankan omongan manusia?”
“Bukan begitu maksud saya, Kiai,” tukas Kiai Syukri.
“Lupakah kamu dengan kisah pernikahan Nabi dengan Zainab binti Jahsy? Dulu Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk menikahi mantan istri anak angkatnya, yaitu Zaid bin Haritsah. Padahal, zaman itu anak angkat dianggap sebagai anak kandung sendiri, sehingga menikahi Zainab binti Jahsy yang merupakan mantan istri Zaid bin Haritsah dianggap kaumnya sebagai menikahi menantunya sendiri. Namun, Allah berkehendak lain. Anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung. Pernikahan itu adalah ujian besar bagi Rasulullah karena menentang adat yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya dianut oleh orang Arab. Pernikahan itu sekaligus untuk menjelaskan status anak angkat yang memang sebenarnya tidak ada dalam Islam. Sekarang, takutkah kamu menikahi Warda?”
“Kalau saya sebenarnya tidak takut Kiai, mungkin Warda yang takut sama saya,” jawab Kiai Syukri akhirnya.
Kiai Sofawi terpingkal-pingkal. “Berarti kamu bersedia menikahinya?”
“Tapi dia tidak mungkin bersedia, Kiai. Usiaku sudah empat puluh tahun lebih, sedangkan dia mungkin baru dua puluh tahun,” tukas Kiai Syukri.
“Dia pasti bersedia. Biar kunikahkan kalian di sini.”
“Kiai bercanda. Dia sekarang masih mondok di Kediri sana,” tukas Kiai Syukri musykil.
“Warda ada di sini semenjak kemarin. Dia bertanya perihal mimpi yang sama seperti yang kamu ceritakan tadi. Menikahlah, biar cahaya di Pesantren Futuhiyah itu semakin terang.”
Lidah Kiai Syukri terasa kelu. Tenggorokannya tercekat. Dan pikirannya bingung. Apakah dia harus bersabar ataukah harus bersyukur mendengar tafsir mimpi dari Kiai Sofawi itu?
Bantur, 9 Juni 2020
