Kiai Syukri yang Selalu Bersyukur

Kang Syukri sampai terbatuk-batuk karena terkejut. Perempuan itu cantik sekali, sekilas melihatnya dada Kang Syukri langsung berdesir-desir tak karuan. Bahkan hingga kini denyut jantungnya belum kembali normal. Kang Syukri tak pernah menyangka kalau malam itu akan ditaarufkan dengan seorang perempuan karena Kiai Fatah tak pernah memberitahu sebelumnya. Dalam hati kecilnya, Kang Syukri merasa tidak pantas. Dirinya sudah hampir berusia empat puluh tahun, sedangkan perempuan itu sepertinya masih sekitar dua puluh tahunan. Namun mau bagaimana kalau Tuhan sudah berkehendak demikian. Manusia sama sekali tidak punya kemampuan menggerakkan hati yang pada ada dalam tubuhnya. Semua alur hidup Allah yang mengatur.

Kang Syukri pun terus mengucap syukur di kedalaman hatinya. Terlebih ketika kedua belah pihak sama-sama telah setuju. Maka kesepakatan acara pernikahan pun segera dibahas. Tidak menunggu hitungan bulan untuk merumuskan acara pernikahan itu. Haji Toha bergegas mempersiapkan segalanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Nama Kang Syukri di kampung-kampung di luar pesantren Futuhiyah memang sudah demikian harum. Adalah sebuah kebanggaan bagi Haji Toha untuk memiliki seorang menantu kiai muda. Haji Toha mengenal Kang Syukri dari pengajian yang ia gelar di masjid kampung tempat Haji Toha tinggal. Saat itu Kang Syukri sedang membadali Kiai Fatah. Beberapa jadwal pengajian di kampung yang diasuh Kiai Fatah memang telah digantikan oleh Kang Syukri. Hal ini karena seiring bertambahnya usia kesehatan Kiai Fatah sering terganggu. Dan setelah pengajian-pengajiannya di luar pondok semakin dikenal, banyak orang memanggil Kang Syukri dengan sebutan “kiai”.

Kang Syukri bagi Kiai Fatah tak ubahnya anak sendiri. Dua anak kiai karismatik itu dengan istri pertama semuanya perempuan. Dan setelah menikah semuanya diboyong ke kediaman suami masing-masing. Ada orang bilang putri-putri Kiai Fatah itu tidak mau tinggal di pesantren Futuhiyah karena mereka tidak setuju dengan keputusan abahnya menikah lagi setelah ibu mereka meninggal dunia. Kang Syukri sendiri menganggap kepergian mereka meninggalkan Futuhiyah karena masing-masing suami dari putri Kiai Fatah itu memiliki tanggung jawab dalam meneruskan estafet pesantren orang tuanya. Dan sekarang Kiai Fatah hanya tinggal dengan istri mudanya beserta seorang putri yang baru sekolah Madrasah Ibtidaiyah.

Di sebuah malam yang dingin Kiai Fatah sedang mutholaah di ruang depan. Di luar suara gerimis yang berdetik di atas genting menyamarkan celoteh para santri di asrama yang berimpitan dengan rumah Sang Kiai. Tiba-tiba pintu diketuk. Pengasuh pesantren Futuhiyah itu segera menghentikan mutholaahnya. Kitab al-Hikam ia taruh di meja dan bergegas membukakan pintu. Senyum kiai itu merekah begitu melihat tamunya ternyata Haji toha.

“Ada keperluan apa malam-malam hujan begini datang bertamu Pak Haji? Apa persiapan resepsi sudah siap?” pertanyaan Kiai Fatah itu membuka perbincangan. Beberapa saat kemudian teh hangat dibawakan oleh seorang khodim, menghentikan perbincangan mereka.

“Bagaimana Pak Haji? Persiapannya sudah semua to?” ulang Kiai Fatah.
Haji Toha tak kunjung menjawab. Raut mukanya terlihat bingung. Dan suara rintik hujan terdengar semakin deras.

“Kedatangan saya kemari karena ada suatu hal yang perlu saya sampaikan Kiai.” Kiai Fatah mengerutkan dahi. Menampakkan kerut-kerut kulit wajahnya. Dan Haji Toha tampak semakin ragu untuk bicara.

“Katakan saja Pak Haji,” sahut Kiai Fatah.

“Maafkan kami, Kiai. Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan.”

“Kenapa Pak Haji?”

“Setelah kami telusuri ke beberapa kerabat, ternyata Kiai Syukri masih kerabat kami. Turun telu, Kiai. Kami tidak berani melanjutkan karena antara putri saya dan Kiai Syukri masih sama-sama keturunan ketiga Mbah Jakpar,” ucap Haji Toha bernada pilu. Suara hujan semakin menyayat-nyayat sepi. Kiai Fatah termangu sedih.

“Tidak semua adat Jawa harus diikuti Pak Haji,” pengasuh pesantren yang berada di tengah kota itu mencoba tersenyum.

Tinggalkan Balasan