Kiai Syukri yang Selalu Bersyukur

Setelah kisahnya dengan Nurmala berakhir dengan patah hati, Kang Syukri belum juga mendapatkan tambatan hati lagi hingga tahun demi tahun pun berganti. Kedudukannya sebagai santri senior yang dihormati serta kedekatannya dengan keluarga Kiai Fatah ternyata tidak berpengaruh pada jalan takdir jodohnya.

Seiring berjalannya waktu, tugas Kang Syukri membantu ndalem pun semakin berkurang. Akan tetapi Kang Syukri sekarang punya tugas khusus menjadi sopir keluarga Kiai Fatah. Waktu senggang di antara kesibukannya menjadi sopir serta mengajar di madrasah lebih sering ia gunakan untuk mutholaah kitab. Tugas barunya dalam mengampu kitab Alfiyah di madrasah memang mengharuskan Kang Syukri untuk sering berjibaku dengan referensi-referensi kitab besar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Malam itu Kang Syukri sedang berkutat dengan kitab Ibnu Aqil, syarah kitab Alfiyah Ibnu Malik yang terpampang di depannya. Setiap malam Sabtu Kang Syukri memang mendapat jadwal mengajar kitab Alfiyah di madrasah tingkat aliyah. Para santri yang kebanyakan masih nyambi kuliah itu menyimak penjelasan Kang Syukri dengan antusias.
“Syaikh Ibnu Malik memberi kita nasihat lewat Alfiyah dalam bab tanaazu’ ini dengan bahasa yang sangat indah,” tutur Kang Syukri tatkala memulai me-murodi isi kitab Ibnu Aqil.

In aamilaani iqtadloyaa fismin amal-qoblu falilwaahidi minhumal amal.
Watstsaani aula inda ahlil bashroh-wakhtaaro aksan ghoirohumdzaa asroh.”

Kang Syukri melagukan bait Alfiyah itu dengan suara seraknya. Namun, bagi para santri suara serak itu terdengar penuh wibawa.

“Ada yang tahu apa maksud nadzoman tadi?”

Semua santri terdiam mendengar pertanyaan ustadz yang juga sopir Kiai Fatah itu. Seorang santri yang sedang tertidur disikut temannya dan lantas jatuh tersungkur karena saking terkejutnya. Seisi kelas tergelak melihat adegan itu.

“Baiklah, biar aku sendiri yang menjawabnya kalau kalian tetap memilih diam,” suara Kang Syukri menghentikan tawa para santri. Suasana kelas berangsur kondusif kembali. “Kurang lebih makna nadzoman itu adalah, jika ada dua amil jatuh sebelum suatu isim, maka amil yang beramal hanyalah salah satunya saja. Menurut ulama basroh, mengamalkan amil yang kedua lebih utama, sedangkan ulama lain memilih sebaliknya. Paham, ya, maksudnya, Kang?” papar Kang Syukri kepada santri-santrinya sembari melempar tanya. Lagi-lagi pertanyaan Kang Syukri disambut dengan keheningan ruang kelas itu.

“Kalian ini kebiasaan, kalau diberi pertanyaan tak pernah menjawab. Seperti perempuan ditawari nikah saja. Diamnya perempuan mengandung jawaban. Kalau diam kalian?” para santri tertawa mendengar teguran Kang Syukri.

“Maksud nadzoman tadi memang untuk memahami ilmu nahwu. Jika bait Alfiyah itu dimaksudkan untuk memahami makna kehidupan, maka artinya beda lagi. Bahwa seorang manusia dianugerahi satu hati dalam tubuhnya. Maa jaalallahu lirojulin min qolbaini fii jaufiih, begitu firman Allah dalam surat al-Ahzab. Allah tidak menciptakan dua hati dalam satu tubuh seorang manusia. Hati itu cuma ada satu, dan tidak untuk dibagi dua. Jadi, jika kalian mencintai seorang perempuan pujaan hati, cinta kalian pada Allah akan berkurang. Atau sebaliknya, jika cinta pada Allah begitu besar, maka cinta pada dunia tidak akan seberapa. Maka dari itu, perbesarlah rasa mahabbah ilahiyah agar urusan duniawi tidak mampu membuatmu gelisah. Karena cinta yang suci akan menjadi pelipur laramu. Dan cinta mana yang lebih suci melebihi cinta ilahi? Cinta di luar itu biasa berbalut dengan kepentingan duniawai. Bukan cinta yang suci,” ujar Kang Syukri berfilsafat.

Di tengah pelajaran itu tiba-tiba datanglah Zaki, khodim Kiai Fatah yang baru. Kang syukri lantas menghentikan pengajian Alfiyah-nya. Pengajian diakhiri karena ternyata Kiai Fatah memanggil dirinya.

Begitu sampai di rumah kiai, Kang Syukri melihat ada beberapa orang sedang duduk di depan Kiai Fatah. Di ruangan itu ada dua orang perempuan dan seorang lelaki. Kiai Fatah menyuruh Kang Syukri mendekat. Setelah bersalaman dan mencium tangan Kiai Fatah, ustadz nahwu itu juga bersalaman dengan tamu lelaki tadi. Mereka saling bertukar senyum. Dan ketika melihat perempuan itu memberi seulas senyum, Kang Syukri seketika tersedak. Kiai Fatah terkekeh melihat santrinya itu salah tingkah.

“Ini namanya Zayina, calon pendamping hidupmu Kang. Sedangkan ini Haji Toha dan Bu Hajah, calon mertuamu, InsyaAllah,” dawuh Kiai Fatah dengan sepenuh wibawanya.

Tinggalkan Balasan