Kiai Tawakkal dan Lautnya

Tidak ada yang bisa menahan seseorang untuk patah hati ketika mengingat bahwa orang yang sedemikian istimewanya, telah tiada bersamanya. Apa yang akan dilakukan Maryono, sungguhlah rawan bagi kondisi mental istri Kiai Tawakkal. Tak ada yang pernah mengatakan bahwa bertanya, “Apa yang dilakukan oleh suamimu semasa hidup sehingga beberapa orang memberi kesaksian kalau dari makamnya terdengar suara lautan?” kepada istri yang baru saja ditinggal wafat suami, adalah hal yang baik. Itu terlalu lancang, Maryono. Saya sedang mengingatkanmu saat ini.

Tapi tekad Maryono sudah bulat. Kiai Tawakkal sudah serupa orangtuanya sendiri semasa hidup, yang terus sabar membimbing dan tak pernah marah sebab kebodohan Maryono sendiri. Tak mungkin ia membiarkan fakta dari Kiai Tawakkal yang sebetulnya bisa diungkap, namun sebab kurang gigih dalam berusaha, menjadi sesuatu yang seolah tak pernah ada.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ia memberanikan diri menghadap istri Kiai Tawakkal. Penuturan tiap kalimat pembukanya runtut, empuk, dan renyah. Hampir-hampir istri Kiai Tawakkal tak menaruh curiga atas kedatangan Maryono. Seolah, Maryono hanya sedang berkunjung seperti tamu lain yang menganggap Kiai Tawakkal masih menjadi sang guru; seolah fungsi robithoh (tali batin antar murid dan guru) yang masih memendarkan cahaya keilmuan di dalam relung tiap hati murid-muridnya.

Maryono memasuki topik yang telah ia rencanakan. Ia mengatur napasnya yang sengal, sesekali meremas jemari-jemarinya untuk entah. Barangkali dengan begitu, kegugupannya memudar, sehingga mudah disusupkan keberanian di antara celah itu. Lanjutkan begitu terus, Maryono, skema komunikasimu jauh lebih bagus dari perencanaanmu. Kini kau makin luwes untuk menghadapi tiap kemungkinan buruk yang sebentar lagi muncul dari jawaban maupun keputusan seseorang yang sedang kau ajak bicara ini. Setidaknya pertahankan sampai keputusan yang akan menjadi peta jalanmu itu muncul dari balik pertimbangan istri Kiai Tawakkal.

“Saya menghargai rencanamu, Yon, tapi malam tadi saya tidur tak jenak dan bermimpi yang saya rasa nyata sekali.” Entah kalimat itu pertanda baik atau buruk, kau jangan terburu-buru menyimpulkannya. Dengarkan dulu.

“Saya bermimpi Abah (sebutan untuk Kiai Tawakkal dari istrinya) sedang berjalan ke masjid Jagalan. Persis sekali seperti aktivitas yang Abah lakukan sehari-hari. Tidak ada yang aneh. Sampai ketika saya melihat Abah menengok ke arah saya, tersenyum dengan penuh ketulusan dan kerelaan, entah untuk ketulusan dan kerelaan yang mana. Saat menyaksikan senyum dan pengalaman rasa yang ganjil itu, saya tertumbuk pada satu kesimpulan bahwa perasaan yang baru saja saya alami di mimpi itu, adalah perasaan yang sama ketika saya sedang bermain di pantai bersama Abah dan anak-anak. Selepas itu, saya terbangun.”

Maryono tertegun mendengarkan cerita yang disampaikan istri Kiai Tawakkal. Perhatiannya tertuju pada tiap kisah yang dituturkan; siapa tahu ada kepingan kunci yang bisa ia ambil untuk menjadi dasar keputusan apa yang perlu ia ambil. Namun sejauh ini masih nihil. Komunikasi dialogis antara keduanya masih terus berjalan dan saya masih menyaksikan skema pembicaraan tersebut. Tapi beberapa kali saya menemukan kesan bahwa musyawarah dan ngudar rasa yang sedang dilakukan akan bernasib sama. Mungkin hanya kebuntuan yang bisa dibawa pulang.

Tidak. Ini tidak buntu. Maryono meyakinkan saya sekaligus dirinya sendiri. Ia merasa baru saja mendapatkan tetesan cahaya yang ia sendiri tak tahu datangnya dari mana. Tapi, sekali lagi, ia yakin kalau ini tidak buntu. Saya mengiyakannya.

Tinggalkan Balasan