Kiai Tawakkal dan Lautnya

“Sudah larut malam, Bu Naya, saya pamit dulu. Kita sambung lain waktu pembicaraan ini sampai bertemu jalan keluarnya,” tutur Maryono sembari menengkurapkan tangannya, melihat jam tangan yang melingkar di sana: pukul 8 malam.

Menuju rumah sambil berharap bisa segera meneguk air es, Maryono memutar-mutar isi kepalanya untuk mendapatkan letak tetesan cahaya yang baru saja ia terima itu. Sekaligus ia sedang menyisir pemakaman yang sedang dilewatinya, berusaha mencari letak makam Kiai Tawakkal saat malam hari begini. Agak sulit, namun bukan tidak mungkin untuk menemukannya. Setelah terlihat, Maryono merapal al-fatihah untuk dihadiahkan kepada Kiai Tawakkal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mendadak air mukanya pucat, seseorang bertubuh gempal, putih, dengan senyum yang tulus dan penuh kerelaan, hadir di depan matanya.

“Tak perlu repot-repot, Yon. Tapi, terima kasih.” Maryono masih bergeming. Tak tergerak sedikit pun sandalnya dari pijakan. Hanya sarungnya yang terus berkibar.

Tadi itu, siapa? tanya saya pada Maryono.

“Kiai Tawakkal,” ucap Maryono. “Tanpa lautan,” lanjutnya.

ilustrasi: lukisan raden salah (1840).

Tinggalkan Balasan