“Kira-kira saya bisa menang nggak ya Bu? Saya pingin banget jadi juara.”
“Isyaallah Karim, selama kamu yakin, mempersiapkan karya tulis dan presentasi dengan baik serta meminta doa dari orang tua, kamu bisa memenangkan perlombaan ini,” jawabku.

Waktu untuk presentasi pun tiba. Karim akan berangkat untuk presentasi karya tulis. Sebagai pembimbing, kepala sekolah meminta aku untuk mengantarnya. Sepanjang jalan anak itu nampak gelisah. Sesekali melihat ponsel yang dipegangnya.
“Tenang Karim. Insyaallah kamu bisa melewati presentasi dengan baik dan bisa menjadi juara. Sudah pamit dan minta restu kepada ayah ibumu?”
“Em…tadi sudah minta restu sama ibu, Bu.”
“Ayah?” tanyaku. Dia nampak gugup dan menarik napas panjang, kemudian dengan lirih menjawab bahwa sudah meminta restu dari ayahnya yang aku kenal sebagai pejabat di kabupaten.
Saat berbicara dengannya, aku jadi ingat kejadian di pasar tempo hari. Rasanya aku ingin bertanya, benarkah itu Karim. Namun sepertinya tidak mungkin. Dengan jabatan orang tuanya dan beberapa kali melihat dia sekolah diantar sang ayah, mana mungkin sekarang pulang sekolah Karim menjadi kuli panggul.
“Ok, kita fokus untuk acara hari ini ya Karim. Semoga kamu menang.”
“Iya, Bu. Aku ingin sekali menang dan dapat hadiah.”
“Pasti kedua orang tuamu bangga jika kamu berhasil menjadi juara.”
“Bukan itu tujuanku, Bu. Aku perlu…”
Belum selesai Karim bicara, mobil yang mengantar kami sudah memasuki halaman gedung perlombaan. Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya ingin disampaikan Karim. Tapi kami harus fokus dengan acara presentasi yang akan berlangsung sekitar satu jam lagi.
Jika aku tanyakan sekarang, takut mengganggu pikirinnya. Sebagai guru pemimbing, aku ikut bertanggung jawab pada keberhasilan Karim di perlombaan ini.
**
