Kisah Anto dan Karim

“Bu…aku menang Bu! Aku menang! Teriak Karim begitu panitia mengumumkan siapa pemenang dalam lomba karya tulis tersebut. “Ya Allah, Alhamdulillah” lanjut Karim sambil sujud syukur. Nampak kedua matanya berkaca-kaca. Hadiah senilai lima juta rupiah berhak dia bawa pulang.

Tidak lama kemudian aku melihat siswa yang selalu terlihat riang tersebut sesenggukan, menahan tangis. “Mama, nanti kita ke dokter ya Ma. Karim sudah punya uang untuk bawa Mama berobat lagi.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku mendengar lirik suaranya, “Karim!” Aku mendekatinya. Apa yang terjadi, Nak?” tanyaku. Aku segera mengajaknya keluar dari keramaian peserta dan panitia dalam acara tersebut. Aku kembali ingat kejadian di pasar tempo hari.

“Bu, mamaku sakit. Aku berjuang untuk ikut lomba ini dan menang agar punya uang untuk membawa mama berobat. Aku sudah mencoba bekerja, tetapi uangnya belum juga cukup.”

“Bekerja? Ayah kamu? Kenapa bukan ayah yang membawa mama ke dokter berobat?”

“Ibu, aku ingin cerita. Keluarga kami kena musibah. Ayahku difitnah, dituduh korupsi dan sudah sebulan dipenjara. Aku tidak pernah bertemu. Mamaku sudah tiga minggu sakit. Semua aset keluarga disita. Kami tinggal di kontrakan sekarang,” mata Karim berlinang.

Karim ingin membawa mama berobat tapi tidak ada uang. Untuk itu bekerja jadi kuli panggul. Tapi hasilnya hanya cukup untuk membeli makan. Karenanya, begitu ada pemberitahuan lomba menulis yang hadiahnya lima juta rupiah dua minggu lalu, Karim bersemangat untuk mengikutinya. Ia ingin dapat hadiah agar bisa membawa mamanya ke dokter.

“Jadi…yang aku lihat tempo hari di pasar, itu benar kamu?”

“Ibu melihat aku?” tanyanya.

“Iya, Nak. Ibu melihatmu saat berbelanja, tetapi ibu tidak yakin karena kamu tidak pernah bercerita.”

“Iya, Bu. Orang pasar mengenalku dengan nama Anto, kependekan dari namaku, Karim Hananto Prasetyo. Aku sengaja pakai nama itu dan selalu memakai topi agar tidak banyak yang mengenali. Bukan malu, aku hanya ingin bekerja tanpa beban karena ayahku mantan pejabat. Aku ingat pesan ayah waktu polisi menjemputnya. Anak laki-laki harus bisa menjaga mama sampai kapanpun. Kata ayah, Allah pasti akan menolongku dan menunjukkan bahwa ayah tidak bersalah.”

Air mataku menetes. Begitu berat perjuangan bocah ini. Hidup susah dari yang sebelumnya serba kecukupan pasti tidak mudah. Namun anak yang sangat patuh pada kedua orang tuanya ini mampu menjalani. Apa yang harus ditanggung dan dilakukannya, mungkin sebelumnya tidak pernah terlintas.

Setelah acara seremonial penutupan perlombaan dan penyerahan hadiah selesai, kami bergegas pulang. Di jalan aku sempat menghubungi kepala sekolah dan bercerita tentang apa yang baru saja aku dengar.

“Kita langsung ke kontrakanmu ya Karim. Kita bawa mamamu ke dokter. Aku sudah meminta izin bapak kepala sekolah untuk memakai mobil ini untuk membawa mamamu. Insyaallah, Allah akan menolong dan memberi kemudahan kepadamu untuk berbakti kepada kedua orang tua dan menunjukkan jika benar ayahmu tidak bersalah.”

Tinggalkan Balasan