“Ini saya sedang naik bus. Suasana dalam bus sedang penuh. Ada anak durhaka yang duduk di sebelah saya. Ia yang membiarkan ibunya berdiri, sedangkan ia duduk.”
“Bukan seperti itu, Pak,…” celetuk Siti.

“Jangan terlalu sabar mengahapi perilaku anak ibu. Anak seperti ini tidak bisa disabari, Bu. Jika ibu masih bersabar terus menerus lama-lama makin ngelunjak.”
“Tolong berikan HP Anda. Hapus videonya!” pinta Fitri.
“Kenapa, Mbak? Takut viral ya? Makanya bersikap baiklah kepada ibumu.”
Medengar perkataan lelaki muda itu kepala Fitri menjadi sakit. Amarahnya seketika memumuncak karena lelaki muda itu semakin memojokkannya. Fitri dengan refleks merampas gawainya.
“Kamu tidak tahu latar belakang kami, jangan menghakimi kami!” sambil berucap Fitri membanting gawai lelaki muda itu.
“Hei apa yang kamu lakukan. Kamu harus mengganti gawaiku!”
Pertikaian mereka semakin menjadi. Lekaki muda itu mendorong tubuh Fitri hingga terjatuh. Para penumpang pun memisahkan mereka.
“Turunkan anak ini, mereka membuat keributan!” ujar lelaki muda.
Sopir menghentikan bus. Fitri dan Siti diturunkan sebelum sampai tujuan. Sementara lekaki muda itu mengambil gawainya yang retak di kolong kursi tempat duduknya.
“Awas nanti, kamu pasti viral!” kata lelaki muda dengan bernada tinggi.
*
Lelaki muda itu terbakar amarahnya terhadap Fitri. Siang hari setelah sampai di tempat kerjanya, ia mengunggah video pertikaiannya dengan Fitri di bus tadi di akun Facebooknya. Ia merasa bangga karena banyak netizen yang membelanya. Banyak juga netizen yang merasa simpati dengan lelaki muda itu, kemudian membagikan unggahannya ke media sosial lainnya. Dalam hitungan jam, video kemarahan Fitri tersebut viral. Saking viralnya video kemarahan Fitri sampai menjadi berita di televisi nasional dan media cetak ternama.
“Da, bukankah itu Fitri?” tanya ibu Rosida ketika melihat berita Kemarahan Remaja di Bus.
“Sepertinya iya, Bu. Coba kucari beritanya di FB.”
Rosida membuka Facebooknya, kemudian mencari video yang viral tersebut. Setelah menemukannya, sahabat Fitri dari kecil itu terperangah keheranan. Untuk menghilangkan rasa penasaran pikirannya, Rosida memutuskan menelepon Fitri.
“Assalamualaikum, Da.”
“Waalaikumsalam. Bagaimana keadaanmu?”
“Cukup baik, Da. Tumben kamu telepon, ada apa?”
Setelah mendengar pertanyaan Fitri, Rosida menceritakan bahwa ada video viral yang mirip dengan dirinya.
“Coba kamu kirim link video itu, Da!”
Sambil menangis, Fitri membenarkan bahwa itu memang dirinya. Ia tak pernah menyangka bahwa pertengkaran dengan lelaki muda itu akan seviral itu.
Fitri menceritakan kepada Rosida bahwa pada saat itu hendak ke rumah sakit untuk memeriksakan sakit kepala yang semakin parah. Akibat dari sakit kepala itu, ia sering lepas kendali. Waktu memasuki sebuah bus, ibunya yang memintanya untuk menduduki bangku kosong di sebelah lelaki muda itu.
“Ia tidak terima jika ibuku yang sudah tua malah kubiarkan berdiri. Karena hal itu, ia menganggap aku sebagai anak durhaka. Kepalaku seketika menjadi teramat sakit ketika lekaki muda itu merekam kami sambil berkata memojokkanku. Akhirnya, terjadilah peristiwa seperti rekaman video di Facebook itu.”
