“Sebaiknya kamu mengklarifikasi kejadian itu secepatnya.”
“Aku sekarang sedang di rumah sakit untuk menjalani MRI. Nanti jika sudah selesai MRI, aku akan membuat video klarifikasi bersama ibuku. Tolong bantu aku ya, Da?”

*
“Berdasarkan hasil MRI, anak ibu menderita kanker otak. Anak ibu termasuk anak yang istimewa karena mampu bertahan dari kanker stadium empat dalam kondisi baik,” kata dokter Ridwan.
“Apa bisa disembuhkan, Pak?” tanya Siti.
“Kami akan berusaha, semoga saja Allah mengizinkan. Sejak kapan anak ibu sakit kepala?”
“Sejak dua bulan lalu.”
“Saya kira tidak mungkin jika hanya dua bulan ini saja putri ibu mengalami gejala sakit kepala, mual, dan sebagainya. Coba ibu ingat?”
“Kalau mulai sering sakit kepala, sejak empat tahun lalu.”
“Sebenarnya putri ibu sudah mengalami gejala kanker sejak empat tahun lalu. Sekarang sel kanker anak ibu sudah menyebar. Jika ibu memeriksakan empat tahun lalu, insyaallah prospek kesembuhannya sampai sembilan puluh persen. Dari pengalaman kami, jika melihat kondisi sel kanker di otak putri ibu, kemungkinan sembuhnya hanya lima persen. Malah ada pasien saya yang sudah tidak sanggup bertahan dengan kondisi yang sama seperti yang dialami dengan anak ibu.”
“Apa pun akan saya lakukan demi nyawa anakku. Tolonglah anak kami satu-satunya ini.”
“Sebagai dokter, kami akan berusaha semampu kami. Ibu bisa memmbantu kami dengan selalu memotivasi anak ibu agar rutin menjalani terapi medis, memberikan support mental, menenangkan pikiran anak ibu agar tidak berpikir terlalu keras, terlalu capek, dan yang terpenting selalu berdoa kepada Allah semoga ia diberikan kesembuhan.”
*
Mendengar kabar bahwa kondisi Fitri semakin memburuk, Rosida berinisiatif mendatangi Aldi di rumahnya. Seusai berbasa-basi, Rosida meminta Aldi mengajak teman-teman sekelasnya untuk menjenguk Fitri di rumah sakit,
“Al, kapan kita menjenguk Fitri?”
“Aku nggak tahu, Da.”
“Kondisi Fitri semakin memburuk sekarang. Ayo kita ajak teman-teman menjenguknya.”
“Coba kamu sampaikan sendiri kepada teman-teman di Grup WA.” Tidak seperti biasanya Aldi bersikap dingin kepada temannya yang terkena musibah.
“Apa gara-gara video di medsos itu kamu tidak lagi care sama sahabatmu?” Aldi hanya terdiam.
“Kamu lebih percaya potongan video dan komentar negatif netizen daripada persahaban kita selama ini?”
“Bisa saja Fitri sengaja baik dengan kita daripada dengan ibunya selama ini,” jawab Aldi.
“Seharusnya sebagai ketua kelas apalagi sahabat Fitri, kamu bijak Al. Kenapa kita tidak menanyakan langsung kepada Fitri atau mendatangi ibunya untuk menanyakan kronologi video Fitri yang viral itu.”
“Tindakan Fitri di video itu salah.”
“Apa jika teman kita bersalah tidak dianggap lagi sebagi teman? Apa jika kita yang tidak tahu detail kejadiannya kemudian menghakiminya, menggibahnya, menghujatnya, menyebarkan aib, bahkan tidak menjenguknya saat sakit? Kemarin aku baru saja WA Fitri, yang membalas ibunya. Ibunya berkata bahwa ‘Fitri kondisinya menurun setelah dia dirundung oleh akun-akun yang tidak dikenal’”
Selesai berkata demikian, Rosida berlari meninggalkan Aldi.
