Berjalanlah rombongan kecil ini melintasi hamparan padang pasir yang tandus. Sejauh mata memandang yang tampak adalah lautan pasir, gunung-gunung batu yang terjal. Tak ada pohon rindang seperti di tepi pantai. Karena terik matahari mencapai 40°-55° C, sementara perbekalan air semakin menipis, sungguh pemandangan yang sangat memilukan hati, apalagi bagi rombongan kecil yang berasal dari negara yang beriklim sedang.
Ciutkah nyali mereka? Tidak! Sebab, tekad mereka untuk bertemu dan pamitan kepada Rasulullah sangat bulat. Meskipun jarak yang ditempuh mencapai 498 Km (hampir sama dengan jarak Surabaya-Tegal) mengakibatkan tubuh dan kaki penuh luka karena cuaca yang sangat ekstrem, mereka tetap melanjutkan langkah.

Jika panas terik telah menyengat, sekitar jam 11.00 siang, mereka istirahat di tempat yang saat itu dijumpai, kadang menemukan timbunan batu di lereng gunung, dan ada mata airnya (wadi). Namun, bila tidak menjumpai tempat seperti itu, mereka berhenti dan tidur di tengah padang pasir. Digalinya padang pasir itu, lalu masing-masing memendam badannya sampai batas leher, hanya kepala yang kelihatan. Tujuannya agar tidak terserang heat stroke (penyakit akibat sengatan panas padang pasir).
Namun, di saat-saat seperti itu, mereka tetap ngaji. Bila memungkinkan, mereka duduk melingkar dan memulai ngaji kitab Minhatul I’rob, tentang nahwu. Sayangnya, kitab ini rusak, akibat pinggiran kitab disobek untuk membungkus tembakau, sebagai pengganti bekal makanan yang semakin menipis.
Akhirnya, mereka bertemu suku Badui, dan mereka ditolong lalu dipersilakan singgah di gubuknya. Di sinilah rombongan kecil ini mengisi bekal. Sementara itu, suku Badui menyembelihkan kambing untuk menyuguhi KH Djazuli beserta teman-temannya. Usaikah perjalanan itu?
Rombongan kecil ini tetap melanjutkan perjalanan, hingga berjumpa dengan suku Badui lainnya. Akan tetapi, suku Badui kali ini memiliki niat jahat, bermaksud merampok. Sebelum insiden terjadi, salah satu rombongan kecil ini berkata: “kami faqir-faqir dari Tanah Jawa akan berziarah ke makam Rasulullah.” Badui-badui itu terketuk hatinya, malahan mempersilakan mereka istirahat dan memberi makan minum untuk rombongan ini.
