Kisah Sang Blawong: Ngaji di Tengah Padang Pasir

Hari demi hari mereka lalui dengan terus berjalan dalam kondisi memprihatinkan. Sendal jebol, kaki-kaki membengkak, surban dan celana pun disobek untuk alas kaki. Kini mereka tidak punya apa-apa lagi buat makan dan minum. Saat itulah KH Djazuli berkata kepada teman-temannya: “Aku akan berdoa, kalian semua mengamini.”

Tak lama berselang, muncullah seorang berbaju putih memanggil dari kejauhan sambil berisyarat dengan tangan. Orang asing itu mempersilakan rombongan masuk gua. Selanjutnya disuguhi aneka makanan, minuman, dan buah-buahan. Peristiwa ini terjadi berulang kali. Anehnya, setelah pamit berangkat melanjutkan perjalanan dan menoleh ke belakang, tempat yang disinggahi tadi hilang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tibalah rombongan kecil ini di kota Madinah sekitar jam 16.30, setelah sebulan lebih melewati ganasnya padang pasir. Hampir sebulan pula mereka tinggal di Madinah, sebelum akhirnya ditangkap pemerintah kerajaan as-Saud dan dipulangkan ke Tanah Air. Konon, setelah penangkapan, KH Djazuli dipaksa pulang lewat pengurusan konsulat Belanda. Petugas tidak memberi kesempatan untuk berkemas-kemas, pamitan atau mengurusi barang, dan kitab-kitabnya di Mekkah. Hanya kitab Dalailul Khairat yang terbawa pulang. KH Djazuli pun berdoa “Saya pasrahkan kitab-kitab ini kepada-Mu, ya Allah.”

Menurut kisah yang saya ingat, kitab Dalailul Khairat yang dibawa KH Djazuli adalah kitab pemberian dari orang yang tidak dikenal. Anehnya, setelah dikroscek, orang yang memberikan kitab itu sudah meninggal 100 tahun yang lalu. Dia bernama Habibullah As-syinqithi. Namun, menurut buku Sang Blawong Pewaris Keluhuran, dia bernama Ibrahim At-taimiy. Wallahualam.  Dari kisah haji tersebut, dapat diambil hikmah bahwa menunaikan ibadah haji bukanlah untuk senang-senang, bukan pula untuk mengangkat strata sosial, belanja, cari oleh-oleh, ajang pamer. Akan tetapi, ibadah haji adalah perjuangan. Ibadah yang menguras lahir batin dengan cucuran keringat seraya bertasbih, bertahmid hanya menggapai ridlo Allah dan berjumpa Rasulullah. Alangkah malunya, bilamana bangga dengan status haji namun jiwa raga tetap jauh dari Allah dan Rasulullah.

KH Djazuli pulang dengan tanpa membawa oleh-oleh layaknya Pak Haji pada umumnya yang berwajah ceria memakai pakaian jubah, serban, bawa kurma, dan air zamzam. KH Djazuli pulang ke Tanah Air dalam keadaan sakit, tidak dapat turun sendiri dari kendaraan dikarenakan kakinya sobek dan baju yang terkoyak. Beliau berangkat dan pulang penuh derita. Akan tetapi di balik itu semua, ayah dari Kiai Din, Kiai Dah, Gus Miek, Kiai Fuad, Kiai Munif, dan Bu Nyai Badriyah ini telah membawa “oleh-oleh” yang sangat berguna, bermanfaat bagi keluarga dan masyarakatnya, yakni Haji Mabrur dan ilmu agama (dari beberapa ulama hijaz) yang diajarkan kepada putra-putri dan santrinya sebagai bekal di dunia dan akhirat.

Khushuson Simbah Kiai Djazuli bin Utsman bin Sahal, Alfatihah…

Tinggalkan Balasan