Kisah Santri Dablek

“Mbak, semalam Yuni juga ikut kok ndak dipanggil?” lapornya. Mbak Ani tersenyum dan keluarlah Yuni dari kamar pengurus dengan senyum mengejek pada kami. Dan saat itu kami sadar kalau Yuni ternyata adalah salah satu mata-mata pengurus asrama putri. Saya dan yang lainnya langsung saling berbisik kesal dengan hal itu. Ya jelas kesal, merasa dikhianati teman sendiri. Teman dekat pula, sakitnya plus-plus.

Dita tampak mencibir. “Bolone Sumanto. Senenge mangan kanca!” (Temannya Sumanto. Sukanya makan teman). Jelas saya terkikik dengan ucapannya yang memang dia adalah asal Purbalingga, Jawa Tengah. Sebagiannya benar, karena memang pondoklah tempatnya teman makan teman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Padahal dia juga menikmati indahnya nongkrong di warnet semalam,” tambah yang lain.

Pada saat bersamaan, santri putra pun mendapat hukuman, dijemur di depan asrama putri. Mereka terlihat memakai kalung dari kardus yang bertuliskan “SANTRIWAN NDABLEG! Namun, bukan main-main, santri putra juga harus digundul sebagai hukuman tambahan alias hukuman berat. Hukuman tambahan diberikan karena mereka tidak ikut berjamaah Subuh.

Setelah kejadian tersebut, peraturan pondok semakin diperketat dan ternyata tetap ada selanjutnya yang masih tetap dablek. Semakin ketat, bukannya semakin jinak, tapi malah semakin memberontak. Sampai-sampai Umi (Bu Nyai pengasuh pondok) pernah ndawuh;

“Kalau semua santri di pondok itu manutan, jelas pondoknya sepi. Tapi kalau dablek semua, ya bangkrut tenaga pengurusnya.” Begitu ucapan beliau sambil tertawa lucu melihat kami yang berjejer menjalani hukuman.

Tinggalkan Balasan