Knowledge Gap di Tengah Pandemi

Yang sangat disayangkan adalah, kegiatan dan acara di masyarakat nyaris tidak berubah meskipun ada pandemi. Orang tetap saja melangsungkan acara pernikahan dengan mengundang ratusan tamu, mengadakan acara haul atau tahlilan juga dengan banyak undangan, dan semua kegiatan-kegiatan tersebut nyaris tidak disertai dengan protokol pencegahan Covid-19. Para tamu dan undangan pun tidak mengenakan masker, tempat cuci tangan dan sabun atau hand sanitizer pun tidak disediakan, bahkan tempat duduk berjarak pun tidak ada.

Tentu saja ada satu-dua orang yang mengenakan masker dan membawa hand sanitizer ke mana-mana. Tapi biasanya, mereka dianggap aneh. Banyak warga masyarakat di desa yang tidak percaya bahwa pandemi ini nyata. Bagi mereka, pandemi cuma terjadi di Jakarta dan di Sumenep tidak ada Corona, begitu yang seringkali mereka ucapkan. Selain itu, informasi-informasi yang tidak kredibel dan beredar secara masif melalui media sosial juga membuat orang-orang banyak yang meyakini bahwa pandemi ini adalah konspirasi belaka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketidakmampuan masyarakat dalam mengolah informasi mana yang bisa dipercaya dan mana yang tidak membuktikan ada knowledge gap yang belum teratasi. Edukasi mengenai pentingnya melakukan protokol pencegahan Covid-19 sebetulnya beberapa kali diungkapkan oleh pemuka agama di sini. Tetapi ada banyak juga pemuka agama yang tidak melakukan protokol tersebut.

Terlebih lagi, peraturan pemerintah tidak cukup ketat untuk bisa “memaksa” masyarakat melakukan protokol kesehatan demi mencegah tertular dan tersebarnya Covid-19 sehingga sampai hari ini, di hampir semua acara seperti pernikahan, tahlilan, dan acara-acara yang melibatkan banyak tamu undangan, jarang sekali ditemui warga yang mengenakan masker.

Tinggalkan Balasan