Desa tempat saya tinggal relatif jauh dari perkotaan, kurang lebih membutuhkan waktu 45 menit berkendara jika ingin pergi ke kota. Beberapa waktu yang lalu, salah seorang warga di desa saya terkonfirmasi positif Covid-19 karena tertular di tempat kerjanya di kota.
Setelah melakukan karantina di salah satu pusat kesehatan di kota dan dinyatakan negatif, ia pun kembali ke rumah. Ia sama sekali tidak dirawat secara intensif karena meskipun dikatakan positif, tetapi ia termasuk orang tanpa gejala. Sehingga proses karantina yang dilakukan semata untuk menghindari semakin menyebarnya virus tersebut ke orang lain. Oleh karena itu, begitu hasil swab dinyatakan negatif, orang tersebut langsung boleh kembali ke rumahnya.

Masyarakat desa di sekitar sini hampir tidak ada yang menggunakan masker. Kalaupun ada yang menggunakan, jumlahnya sangat sedikit, bisa dihitung dengan jari. Namun, ketika berita tentang salah satu tetangga di sini positif Covid-19, keesokan harinya, suasana di desa langsung lengang dan hampir semua orang mengenakan masker. Sayangnya, hal itu hanya terjadi sehari saja. Setelah itu, orang kembali beraktivitas tanpa masker, seolah-olah lupa bahwa sehari yang lalu, ada salah seorang tetangga yang positif Covid-19.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa sebetulnya ketahanan masyarakat desa relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan warga perkotaan ketika menghadapi pandemi. Di perdesaan, nyaris susah ditemukan orang kelaparan karena tidak punya pekerjaan. Solidaritas antarwarga sangat tinggi sehingga budaya saling menolong bisa menyelamatkan ketahanan pangan keluarga-keluarga yang terdampak pandemi.
