Saya teringat peristiwa itu, ketika akhir-akhir ini mendadak orang ramai bergunjing soal komunis. Pergunjingan dibangun sedemikian rupa, hingga diciptakan situasi yang seolah-olah sangat mencekam: negara dalam bahaya. Komunisme bangkit dari kuburnya. Negara sudah dikuasai oleh orang-orang komunis. Kita kemudian diajak menyatukan gerakan untuk giliran “mengganyang” orang-orang komunis yang baru bangkit dari kuburnya ini. Tapi siapa sesungguhnya orang-orang komunis ini?
Masih seperti di zaman ketika saya harus mengurus surat bersih diri itu: orang-orang komunis masih digambarkan sebagai mereka yang ingin merebut kekuasaan negara dengan berbagai cara, termasuk dengan teror, pembunuhan, dan pemberontakan; mereka yang menolak Pancasila dan ingin menggantinya dengan ideologi sosialisme-komunisme; mereka yang anti-Tuhan dan anti-Islam dan karena itu memusuhi Tuhan dan agama; mereka yang menghalalkan segala cara untuk mengegolkan keinginannya.

Tapi, bukankah semua itu bisa dilakukan oleh siapa saja, oleh kelompok kekuatan mana saja? Apakah kita lupa, yang pernah memberontak di negeri ini bukan cuma PKI. Yang pernah melakukan teror dan pembunuhan juga bukan cuma PKI. Yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain, dengan sistem pemerintahan yang lain, juga bukan cuma PKI. Yang tidak percaya Tuhan dan agama, lebih-lebih di era ini, juga bukan cuma PKI. Yang menghalalkan segala cara, juga bukan cuma komunis. Bahkan, kapitalis pun, pernah tak luput dari stigma ini: menghalkan segala cara.
Jadi, siapa sesungguhnya komunis itu, di era ini?
Jangan-jangan, komunis itu adalah kita, orang yang diam-diam masih memendam keinginan untuk mengganti Pancasila, mengubah NKRI, sesusai dengan kepercayaan kita.
