Kurangnya informasi sebab rendahnya literasi menjadikan manusia bersikap bebal. Kebebalan kemudian menciptakan kesalahan berulang dan memperparah konflik yang sedang terjadi. Manusia bebal akan terjebak dalam kebodohan dan melahirkan kejahatan. Perkataan dan perilakunya seringkali mengacaukan tatanan sosial dan cenderung menjadi provokator untuk melihat konflik yang lebih besar.
Rendah literasi juga dipengaruhi karena pesatnya perkembangan teknologi. Manusia cenderung malas karena difasilitasi media dan membanjirnya informasi. Mempercayai hoaks melalui sebuah judul artikel tanpa membaca isinya. Membagikan ke berbagai jaringan media dengan motif mengajak banyak orang ikut mendukung keputusannya.

Kebencian dijadikan variabel primer dan kebenaran informasi hanya menjadi ornamennya. Menjamurnya berbagai ideologi politik dan agama semakin memperkeruh konflik di masyarakat. Antarkelompok tidak berkenan menghibahkan diri untuk menerima informasi dari kelompok lain. Sehingga kemauan berliterasi hanya di lingkup informasi kelompoknya. Pebedaan semakin kentara terlihat.
Berliterasi tidak hanya berbicara jumlah orang yang berkunjung ke perpusatakaan atau seberapa banyak jumlah orang yang membeli buku. Literasi adalah budaya membaca dan berpikir sebelum bertindak. Keengganan membaca akan berpengaruh terhadap kepasifan otak mengolah informasi. Ternyata membanjirnya informasi tidak berkorelasi dengan kebiasaan membaca masyarakat. Akibatnya kerap muncul konflik yang jika dikelola akan menjadi tindakan yang destruktif yang menggangu tatanan sosial masyarakat.
Konflik di media sosial banyak terjadi karena rendahnya literasi terhadap informasi. Mempercayai hoaks dengan landasan kebencian terhadap seseorang atau kelompok yang dianggap musuhnya. Euforia konflik menjadi gairah tersendiri berlindung di balik demokrasi dan hukum asasi. Tidak butuh lagi persatuan, selain keinginan terwujudnya perpecahan dan kekacauan.
