Kontekstualisasi Ayat Suci tentang Orang Tua

Naziful berkeinginan bahwa kalimat “Wala taqul lahuma uffin” (QS. Al-Isra’: 23) tidak dijadikan “azimat” legalitas tindakan orang tua untuk menindas seorang anak. Dan itu benar. Akan tetapi perlu dipahami bahwa ayat suci itu tidak memiliki interpretasi kesewenangan terhadap anak. Tidak ada indikasi nyata terkait teks dan konteks bahwa orang tua boleh bertindak represif terhadap buah hati. Bahkan, kewajiban orang tua terhadap anak berupa kasih sayang harus terus ditampakkan.

Jika kemudian timbul kekhawatiran bahwa orang tua berlindung di balik ayat suci, maka sudah ada ayat-ayat tandingan yang akan menjadi asas hukum secara tersendiri. Lebih dari itu, orang tua mempunyai kewajiban terhadap anak dalam berbagai persoalan. Allah swt berfirman, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuannya.” (QS. Al-Baqarah: 233). Salah satu kewajiban orang tua (baca: ibu) adalah memberikan nutrisi kepada buah hatinya. Jika kewajiban ini diabaikan maka orang tua telah melakukan kesalahan atau dosa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari kakek Ayub Bin Musa Al Quraisy dari Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.” Orang tua berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang baik (akidah, akhlak, dan lain sebagainya) kepada anaknya. Dan tentu masih ada kewajiban orang tua yang lainnya, yang tidak perlu saya jabarkan di tulisan ini.

Naziful berusaha menjelaskan lebih jauh bahwa tidak jarang orang tua yang berlindung di balik teks (ayat suci) untuk mendiskreditkan anaknya. Apakah benar hingga sedemikian? Mari kita lihat teks dalam paragraf yang ditulis oleh Naziful.

“Evaluasi tersebut diperlukan karena selama ini pemaknaan teks suci tentang orang tua lebih dominan dipelihara dimensi imanennya, dibanding dimensi sosio-psikologisnya. Dampaknya, tersedia banyak modus bagi orang tua untuk menyembunyikan otoritarianisme kekuasaannya; arogansinya atas prejudisnya; gengsinya untuk bermuhasabah; hasratnya untuk memaksakan kehendak terhadap anak; dan meremehkan apa yang dirasakan si anak, di bawah atas-nama teks suci.“

Tinggalkan Balasan