Kontekstualisasi Ayat Suci tentang Orang Tua

Mendahulukan yang imanen (kesadaran berpikir) dalam memahami ayat suci merupakan sebuah keniscayaan. Karena pada dasarnya konteks didahului oleh teks. Meskipun pada akhirnya teks dan konteks merupakan dua aspek yang saling mendukung. Sementara, arogansi, otoritas kekuasaan (kesombongan?), memaksakan kehendak, dan gengsi adalah tindakan tersendiri yang dilarang dalam pandangan Islam. Tentu saja kecenderungan tindakan negatif ini tidak boleh dilakukan, bahkan sekalipun berlindung di balik teks Al-Quran.

Jadi yang diinginkan Muhammad Naziful Haq adalah interpretasi komprehensif terhadap sebuah ayat suci, khususnya ayat-ayat Al-Quran terkait dengan eksistensi orang tua. Bukan memaknai ulang, sehingga terjadi tafsir yang ambigu terhadap sebuah ayat suci.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketika di dalam ayat suci terdapat kalimat “jangan sekali-kali berkata “uff”” maka kalimat itu bermakna sama hingga akhir zaman. Namun melihat hikmah di balik ayat tersebut dengan interpretasi yang melahirkan kebaikan adalah sebuah keharusan. Karena di balik teks ayat suci ada berlaksa hikmah yang perlu kita gali untuk dibumikan atau aplikasikan.

Saya berharap tulisan ini tidak menjadi polemik atau perdebatan yang tidak bermakna. Karena saya memahami bahwa tujuan dari Muhammad Naziful Haq adalah baik, untuk memberikan pemahaman kepada orang tua agar tidak bersikap sewenang-wenang terhadap anaknya. Bahkan meskipun orang tua diistimewakan dengan ayat suci, hal tersebut jangan dijadikan alibi untuk berbuat semena-mena terhadap si buah hati. Jadi mari kita ambil hikmah dari sebuah diskusi untuk membangun khazanah keilmuan dalam ranah kemanusiaan.

Wallahu A’lam bis-Showab!

Tinggalkan Balasan