Korelasi Terminologi Islam Nusantara dengan Aswaja

Jika ditinjau pada ruang lingkupnya, Islam Nusantara adalah ikhtiat menginterkoneksikan dan mengintegrasikan antarperadaban, yang terdiri dari peradaban teks, peradaban ilmu dan budaya, dan peradaban lokal. Adapun, pokok-pokok yang dikaji dalam Islam Nusantara antara lain  genealogi keilmuan, kajian tentang budaya dan karakter masyarakat Indonesia, sanad ilmu, forum ilmiah seperti bahstul masail, pranata sosial Islam di Indonesia, sosiologi, antropologi, historigrafi, hukum, politik, dan berbaagai aspek lainnya yang ada di Indonesia.

Korelasi Ajaran

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Adanya konsep Islam Nusantara membawa peran yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi umat Islam di Indonesia, terutama dalam hal pengembangan budaya (tradisi) luhur bangsa dan pembentukan karakater sesuai dengan bangsa Indoneia. Namun, bagaimana korelasi antara konsep Islam Nusantara dengan paham Aswaja? Hal ini penting, mengingat bahwa Islam Nusantara merupakan gagasan yang diusung oleh organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Aswaja yang merupakan kependekan dari Ahlus-Sunnah Wal-Jama’ah seringkali dimaknai sebagai paham (ajaran, metode, doktrin) yang di dalamnya memuat banyak aliran atau mazhab. Di kalangan Nahdliyin, Aswaja diartikan sebagai paham atau ajaran yang dalam bidang akidah (teologi) mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Mathuridi, sedangkan dalam bidang fikih mengkuti salah satu dari mazhab empat yang terdiri dari Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hambali. Sementara, dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Junaidi dan Imam Ghazali. Ketentuan tersebut sebenarnya merupakan penyederhanaan dari konsep keberagaman mazhab agar lebih mudah dipahami. Namun demikian, bukan berarti menyalahi mazhab-mazhab muktabar lainnya.

Dilihat dari sejarah, terminologi Aswaja itu secara implisit sudah ada sejak zaman Nabi. Meskipun belum menyebut istilah Aswaja secara tekstual, hal ini didasarkan pada hadis Nabi yang menyebutkan bahwa golongan yang akan selamat adalah “ma ana alaihi wa-ashabi”, yaitu ajaran (wahyu) yang disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada para sahabat dan diamalkan, serta para sahabat juga ikut mengamalkannya.

Dari sini dapat diketahui bahwa Aswaja secara substansial bukanlah paham baru yang hanya sebatas merespons atas tantangan golongan-golongan di luar Aswaja. Berangkat dari istilah “ma ana alaihi wa-ashabi” ini, akhirnya berkembang dan menjadi terminologi ahl as-sunnah wal-jama’ah (aswaja) yang ada saat ini. Seiring dengan perkembangan dinamika kehidupan, maka lahirlah gagasan Aswaja sebagai manhaj al-fikr (metode berpikir).

Tinggalkan Balasan