Korelasi Terminologi Islam Nusantara dengan Aswaja

Dengan demikian, Aswaja dapat menjadi minhaj al-fikr (metode berpikir/konseptual, pijakan berpikir, kerangka fikrah). Dalam konteks ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu tawasuth, tasamuh, tawazun, ta’awun, amar ma’ruf nahi munkar, dan ta’addul. Adapun, tawasuth (moderat, tengah-tengah, al-din al-wasatiyah) adalah sikap seseorang yang moderat, artinya tidak radikal dan juga tidak sekular. Sikap demikian ini menuntut agar sesorang tidak ekstrem kiri maupun ekstrem kanan dalam menyikapi agama.

Sementara, tawazun (seimbang, balance, al-musawa) berarti keseimbangan dalam pola hubungan atau relasi baik yang bersifat antarindividu, antarstruktur sosial, antara negara dan rakyatnya, maupun antara manusia dengan alam. Tawazun juga bisa berarti seimbang dalam menggunakan dalil aqli dan dalil naqli. Sedangkan, ta’addul (keadilan, justice, al-‘adalah) adalah sikap dalam melihat dan menyikapi segala permasalahan. Adil tidak selamanya berarti “sama rata sama rasa”. Adil adalah bersifat proporsional berdasarkan hak dan kewajiban masing-masing.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kemudian, ta’awun (gotong royong) adalah bentuk kerja sama antarindividu dan kelompok, membentuk suatu norma untuk saling percaya dalam melakukan kerja sama dalam menangani permasalahan yang menjadi kepentingan bersama. Adapun, tasamuh (toleransi, respect) adalah sikap menghargai atau bersedia untuk menghormati terhadap realitas sosial, keanekargaman budaya, sosial, agama, dan berbagai perbedaan lainnya, sehingga dapat menciptakan keharmonisan dalam kehidupan sebagai umat manusia.

Dari dasar-dasar Aswaja tersebut dapat diketahui bahwa konsep Islam Nusantara saling berkorelasi dengan paham Aswaja, terutama berkaitan dengan prinsip-prinsip dalam Aswaja. Islam Nusantara sebagai wadah untuk mengimplementasikan berbagai prinsip-prinsip yang terdiri dari  tawasuth, tasamuh, tawazun, ta’awun, amar ma’ruf nahi munkar, dan ta’addul.

Karena itu, Islam Nusantara sebagai praktik keislaman di Indonesia cenderung mengedepankan nilai-nilai moderat, bersikap toleransi terhadap tradisi, budaya, serta kearifan lokal sebagai hasil dialetika. Dengan demikian, paham Aswaja dengan konsep Islam Nusantara tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Dari pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang mengedepankan perdamaian, akhlak al-karimah, dan prinsip moderat (tawasuth), bersikap tawasuth dan tawazun dalam mengahadapi paham-paham ekstrem dan sekular, menerima budaya lokal selama tidak bersebrangan dengan prinsip-prinsip syariat, mengedepankan dialetika antara teks (syariat) dengan realitas dan budaya setempat, menyeimbangkan (tawazun) dalil naqli (wahyu) dan metode aqliyah (rasio), sehingga melahirkan harmonisasi antara agama, budaya (tradisi), kearifan lokal (local wisdom), dan bangsa Indonesia sesuai dengan prinsip-prinsip paham Aswaja.

Tinggalkan Balasan