“Tapi, hidup di penjara yang pengap seperti ini, berkumpul dengan para bajingan seperti mereka, tidak ada bedanya dengan kematian secara perlahan,” jawab Rusli.
“Memangnya kau tidak lebih bajingan dari pada mereka?” sambung Pengacara Karmain.

“Aku bajingan yang terdidik, bukan bajingan murahan seperti mereka.”
Mendengar jawaban itu, Pengacara Karmain hanya bisa berdehem, mengistirahatkan mulutnya sebelum ia meninggalkan Rusli. Sebelum ia pergi, ia sudah merencanakan sesuatu. Ia menyuruh Rusli untuk membuat kekacauan di dalam sel. Kemudian setelah ia dipukuli oleh napi-napi yang lain, ia akan dipindahkan ke sel yang lain. Itu sudah direncanakan oleh Pengacara Karmain dan kepala sipir sebagai alasan untuk memindahkannya.
Malamnya, ia tertidur tanpa ada yang mengganggu, meskipun ia merasakan sakit di sekujur tubuh. Ia juga bermimpi buruk. Ia menceritakan mimpinya kepada Pengacara Karmain;
Pada suatu pagi yang hangat, para napi berkumpul di sebuah tanah lapang berumput pendek. Kepala sipir dan puluhan petugas yang lain menggenggam pentungan karet. Para napi diperintahkan lari memutari lapangan. Setelah itu, para napi berduyun-duyun melakukan kerja paksa untuk pembangunan lapas. Tentunya negara tak mau rugi sudah menampung para napi yang jelas-jelas merugikan negara, apalagi seorang koruptor. Maka dari itu, negara memanfaatkan tenaga-tenaga para napi untuk proyek pembangunan. Jika napi sudah tidak bisa bekerja, napi akan dipindahkan ke sel bawah tanah sampai ia mati dan menjadi santapan cacing tanah.
Menurutnya mimpi itu lebih mengerikan dari iblis yang paling mengerikan. Ia bilang kepada Pengacara Karmain, jika ia akan dihukum mati. Ia melihat regu tembak mengarahkan moncong senapan ke arahnya, membuatnya seketika terbangun.
Ia juga menceritakan suasana penjara di dalam mimpinya, bahwa di penjara itu, napi tak mungkin bisa kabur. Jika kabur, mereka akan segera menemui ajal. Para sipir, mungkin akan menembaknya. Meskipun napi bisa kabur, mereka tidak akan selamat. Mereka harus berenang di laut lepas sejauh satu kilo meter. Setelah itu, mereka melewati sebuah pulau terpencil yang sangat ganas. Kemungkinan mereka mati karena malaria, atau diterkam harimau atau dikeroyok oleh anjing-anjing hutan. Bila mereka menyusuri sungai, buaya-buaya lapar akan senantiasa bersiap untuk mencabik-cabik tubuh mereka.
Selain hal-hal yang membuat di penjara menakutkan di dalam mimpinya, ia juga tidak sanggup mendengar, ia dibicarakan oleh sesama napi. Menurut mereka, pejabat yang melakukan tindakan penggelapan uang, adalah seseorang yang memalukan. Mereka dipercaya oleh rakyat, namun mereka mengkhianatinya. Mereka hidup bermewah-mewahan sedangkan rakyat untuk makan saja kesulitan. Tentu hukumannya harus lebih berat dari pada seseorang yang ketahuan maling ayam atau pencopet.
“Maling ayam saja, harus babak belur nyaris sekarat, masak koruptor tidak dihukum mati?” kata salah satu narapidana yang mencuri ayam tetangga. Seseorang yang katanya tokoh agama ditangkap karena menghina presiden mengatakan, “Jika pencuri roti saja dihukum potong tangan, maka koruptor harus dipotong kepalanya, alias dipenggal.”
Kemudian giliran pencuri kayu yang berbicara. Ia mencuri kayu untuk reng rumahnya, “Hukum di negeri ini sungguh tidak adil. Orang mau memperbaiki rumah, malah dipolisikan, sedangkan mereka yang meratakan pohon untuk pembangunan pabrik tidak dipersoalkan. Benar-benar aneh,” ucapnya.
Kemudian si bandar togel menyahut, “Meskipun aku bandar togel tapi aku tidak merugikan orang lain, sedangkan koruptor merugikan banyak orang. Tapi anehnya, mereka seolah-olah merasa terhormat sudah menjadi koruptor.”
“Aku yang hanya memotong tebu milik tetangga di kebun tetap saja dipolisikan, sedangkan koruptor bisa-bisanya minta potongan masa tahanan,” ucap sang napi pencuri tebu.
***
