Ada puluhan sel di rumah tahanan itu. Para napi berkumpul di satu sel, beralasan tikar dari daun pandan yang disediakan oleh petugas. Terkadang, mereka mudah masuk angin, karena lantai sel sangatlah dingin bila malam hari. Bila siang hari terasa pengap karena jumlah tahanan terlalu banyak. Di dalam satu sel terdiri tujuh atau delapan orang. Mereka harus berdesak-desakan, layaknya ikan-ikan yang dibawa nelayan ke pasar. Mereka memakan makanan yang sekiranya bisa menahan mereka untuk tetap hidup saja. Hanya itu, kadang-kadang saja mereka bisa makan makanan yang layak.
Keadaan jauh berbeda dengan penjara yang ditempati Rusli. Tidak hanya fasilitas yang lengkap, melainkan mereka bisa keluar masuk penjara sampai berhari-hari dengan alasan berobat atau alasan yang mengada-ada.

Pengacara Karmain bernegosiasi dengan kepala sipir untuk menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan Rusli dengan cara mengucurkan dana untuk operasional dan pembangunan rumah tahanan. Dengan hal inilah, tahanan macam Rusli memiliki hak istimewa di dalam penjara.
Citra seorang koruptor yang budiman tersemat padanya. Semakin besar dana yang dikucurkan, semakin baik pula nama Rusli. Ia merenovasi masjid dan gereja yang ada di rumah tahanan itu, membuatnya menjadi tahanan berpredikat berkelakuan baik. Maka dari itu, ia mendapat remisi potongan tahanan. Ia juga telah membayar uang denda yang ditetapkan pengadilan. Ia hanya dihukum empat tahun penjara. Namun tentu saja, ia semakin dibenci para napi yang lain.
“Orang seperti Rusli, tentu saja bisa membeli hukum. Ia bisa membeli hukum dengan uang hasil korupsinya,” ucap salah satu pencuri ayam yang duduk melingkar sambil bermain gaple dengan para napi yang lain.
“Bagaimana pun, lebih enak jadi orang kaya ya, meskipun kaya dari hasil korupsi,” sambung napi yang lain.
***
Waktu adalah kumpulan hari yang senantiasa berlari. Empat tahun berlalu, kini Rusli menghirup udara bebas. Ia didampingi oleh Pengacara Karmain. Kepala sipir menghampirinya dan mengucapkan selamat atas kebebasannya. Tidak hanya kepala sipir, bahkan semua yang ada di rumah tahanan itu mengucapkan selamat atas kebebasannya, kecuali para napi yang hanya bisa menyaksikan Rusli dengan wajah berseri-seri, melawati deretan sel dengan senyum terbaik kepada mereka, seolah-olah ia bukanlah seorang mantan narapidana, melainkan hanya sekedar iseng menjajal hidup menjadi seorang tahanan. Para napi mendadak mual setelah ia tersenyum kepada mereka. Ada yang langsung meludah, ada yang langsung menggebrak jeruji, bahkan ada yang langsung kencing di hadapannya.
Tetapi dengan pembawaan santai, ia tidak merasa tersinggung. Baginya tidak ada waktu untuk tersinggung, melainkan mengatur kembali kepercayaan masyarakat untuk kembali menjadi orang yang budiman dan merencanakan untuk memutar sisa uang hasil korupsi, sembari menunggu, barangkali ada jabatan yang kosong.
Di depan gerbang ia sudah disambut oleh para kolega dan awak media. Kemudian ia dikalungi karangan bunga. Betapa ia benar-benar seperti pahlawan yang pulang dari medan pertempuran. Seperti halnya atlet yang meraih medali emas di Olimpiade. Tidak hanya itu, saat di rumah, istrinya sudah menunggunya untuk memberi kejutan.
Setiba di rumahnya yang megah, ia mendengar suara rengekkan bayi yang sedang digendong oleh istrinya. Istrinya mencium tangannya dan memperlihatkan bayi itu. Kemudian sang istri menaruh bayi itu di kereta bayi sambil mendorongnya ke hadapannya.
“Lihatlah bayi ini. Ini hasil dari kau pulang setahun yang lalu saat kau mengajakku berlibur ke Bali,” ucap istrinya.
“Benarkah? Mengapa kau tidak mengabari, bila kau hamil?” tanya Rusli menyelidik.
“Menurutku itu tidak perlu. Yang namanya kejutan ya harus mengejutkan. Kejutan ini untukmu,” jawab sang istri memeluknya. Tetapi ia menyimpan ragu, apakah itu benar-benar bayinya? Menurutnya, bayi itu lebih mirip dengan Pengacara Karmain. Namun, ia tidak mau memikirkannya terlebih dahulu. Biarkan bayi itu tubuh terlebih dahulu, siapa tahu, kelak bayi itu akan mirip dengannya.
