Dalam tradisi Islam, haul adalah bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Namun dalam konteks kebudayaan, haul menjadi metode merawat ingatan. Sastra sering lahir dari kesepian, tetapi hidup dari pembacaan ulang. Haul Sastrawan adalah bentuk kasih sayang kultural terhadap mereka yang telah menulis dengan darah dan doa.
Acara ini mengingatkan kita bahwa mengenang bukan sekadar ritual, melainkan laku kesetiaan terhadap nilai. Dalam haul, setiap bait yang dibacakan adalah doa, setiap penyair yang disebut adalah guru batin. Ia menghubungkan masa lalu dan masa kini, dunia fana dan kekekalan, imajinasi dan iman.

Melalui haul, bangsa Indonesia menemukan cara khasnya sendiri untuk menghormati intelektual—bukan dengan pidato dan patung, tetapi dengan pembacaan yang khusyuk dan berdoa bersama. Inilah spiritualitas khas Nusantara: menggabungkan zikir dengan estetika, doa dengan budaya.
V. Spiritualitas dan Estetika: Dua Sayap Kebudayaan
Banyak yang mengira iman dan seni adalah dua hal yang bertolak belakang. Padahal, keduanya berakar pada satu hal: kerinduan akan kebenaran. Iman adalah zikir menuju Tuhan; seni adalah pencarian bentuk bagi yang tak terucapkan.
Dalam Semaan Puisi, dua sayap itu bertemu. Puisi menjadi doa yang estetis; doa menjadi puisi yang metaforis. Di situlah bangsa ini menemukan wasatiyah kebudayaan—jalan tengah yang menolak ekstremisme dogmatik sekaligus skeptisisme nihilistik.
Asrul Sani pernah menulis bahwa “yang abadi dari seni bukan bentuknya, melainkan niatnya.” Niat inilah yang menjadi jantung dari Semaan Puisi dan Haul 12 Sastrawan Indonesia.
Di tengah fragmentasi digital, kegiatan ini menjadi ruang penyembuhan spiritual dan kultural—sebuah upaya menyeimbangkan nalar dan rasa, tafsir dan imajinasi, antara yang sakral dan yang profan.
VI. Menghidupkan Kembali Semangat Lesbumi
Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia), yang didirikan pada awal 1960-an oleh Asrul Sani bersama Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik, adalah tonggak sejarah penting dalam upaya menyatukan iman dan seni. Lesbumi lahir bukan sekadar sebagai reaksi politik terhadap Lekra atau Manikebu, tetapi sebagai tawaran epistemologis baru: bahwa kebudayaan adalah laku iman, dan iman adalah sumber daya cipta.
Asrul Sani menjadi figur sentral dalam gagasan ini. Ia, yang dikenal sebagai modernis dan humanis universal, justru menemukan kedalaman pemikirannya di rahim tradisi Islam Nusantara. Melalui Lesbumi, ia tidak lagi berbicara tentang seni untuk seni, melainkan seni untuk manusia dan Tuhan.
Semaan Puisi dan Haul 12 Sastrawan 2025 adalah gema kontemporer dari semangat Lesbumi: menjadikan puisi sebagai dzikir kolektif, dan haul sebagai ruang tafsir kebudayaan.
Seolah Asrul kembali bicara melalui waktu, mengingatkan bahwa bangsa ini hanya bisa bertahan jika seni dan iman berjalan beriringan.
VII. Asrul Sani dan Jalan Ketiga Kebudayaan
Dalam lanskap kebudayaan Indonesia pasca-1950-an, Asrul Sani berdiri di antara dua arus besar: realisme sosialis (Lekra) yang menundukkan seni di bawah politik, dan humanisme universal (Manikebu) yang cenderung elitis. Asrul memilih jalan yang lebih sulit—jalan ketiga. Ia melihat bahwa seni tidak boleh dijadikan alat politik, tetapi juga tidak boleh tercerabut dari masyarakat dan iman.
Lesbumi menjadi wadahnya untuk merumuskan humanisme religius: seni yang berpihak pada manusia karena berakar pada Tuhan. Dalam kerangka inilah Semaan Puisi dan Haul Sastrawan 2025 juga harus dibaca: sebagai upaya menghidupkan kembali warisan jalan ketiga itu di tengah zaman baru yang diwarnai krisis makna.
Ketika penyair-penyair hari ini berdiri membaca puisi di ruang haul, mereka sebenarnya sedang melanjutkan jejak Asrul—melakukan apa yang dulu ia impikan: menjadikan kata sebagai jembatan antara bumi dan langit.
VIII. Modernisasi Tradisi: Dari Situbondo ke Jakarta
Lesbumi bukan hanya konsep; ia gerakan nyata. Di berbagai daerah, kelompok teater pesantren seperti Al Badar di Situbondo mendapat sentuhan modern: tata lampu, musik, dan dramaturgi yang memperkaya tanpa merusak akar. Kisah Nabi dan hikayat sufistik dipentaskan dengan iringan dangdut Madura—seni rakyat yang bersenyawa dengan dakwah.
Spirit ini hidup pula dalam Semaan Puisi. Ketika santri, mahasiswa, dan penyair duduk bersama membaca Asrul Sani di pesantren, itu bukan sekadar peristiwa estetik. Itu adalah kelahiran ulang tradisi: modernitas yang bertemu dengan spiritualitas.
