Kronik Peristiwa 1965 (1): Di Antara yang Terbunuh…

Gus Dur tidak meneruskan ceritanya, dan orang yang mendengarkan disuruh memaknai sendiri.

Tidak hanya itu. Menurut kesaksian banyak orang di Madiun, terungkap bahwa Hasan Simin, seorang kiai desa di Magetan, tetap digorok lehernya meski diketahui sangat rajin beribadah, mengajar ngaji, dan tidak pernah melanggar ketentuan umum masyarakat sekitarnya. Ia dibunuh hanya karena tercatat pernah hadir di salah satu pertemuan BTI untuk membahas soal pembagian air irigasi sawah di desanya. Bahkan, sesaat sebelum digorok, atas izin si penggorok, ia sempat melaksanakan shalat isya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saya menyaksikan tujuh orang santri langgar yang tertangkap awal September 1965 disembelih bersama 20 orang lain dan dikubur dalam satu lubang di sebuah desa di Jember, Jawa Timur. Gara-garanya, mereka diajak perampok senior – dan diancam disiksa kalau tidak mau –  untuk menggasak toko kelontong dan sembako tetangga desanya, dan karena kepepet ekonomi dan ketakutan, mereka ikuti ajakan itu.

Mereka ditangkap bersama yang lain selang dua hari setelah perampokan itu terjadi. Celakanya, keturunan mereka harus menerima nasib pilu, dikucilkan dalam pergaulan sekolah dan sehari-hari dan sangat sulit mengurus surat-surat keterangan termasuk KTP, bahkan tidak mungkin menjadi pegawai, apalagi pegawai negeri.   Kisah tujuh orang santri langgar itu belum termasuk entah berapa orang di negeri ini yang terkubur selubang dengan warga PKI, semata-mata hanya karena mereka  mencuri ayam, sepeda onthel, pisang, atau pencopet di pasar. Mereka tertangkap menjelang 30 September 1965 dan belum dimeja-hijaukan.

Itu memang sekadar kasus, meski masih bisa ditambah kisah-kisah lain lagi. Tetapi, itu sudah cukup menggetarkan kita untuk bertanya: di mana sebenarnya letak ideologisnya?

Tinggalkan Balasan