Pembunuhan waktu itu ternyata tak peduli apakah benar-benar penganut (ideologis) komunisme, sekadar ikut-ikutan, atau malahan tak tahu apa-apa soal komunisme. Jangankan ajaran marxisme-komunisme, beda dan hubungan antara BTI dan PKI saja tidak tahu. Apalagi, ternyata sebagian dari mereka adalah muslim taat. Apakah kekeliruan yang disengaja, dan karena itu tak dimaafkan? Bisa jadi.
Marxisme, setelah diluncurkan penggagas awalnya, ditangkap dan ditafsirkan oleh sejumlah tokoh dan penguasa politik sangat bervariasi. Lenin dan Mao Tje Tung adalah dua di antara penafsir yang sangat popoler. Marxisme sebagai aliran pemikiran, mereka transformasikan menjadi ideologi gerakan, atau bahkan gerakan itu sendiri. Dan wujud gerakan yang mereka pilih adalah partai komunis yang, pada saatnya, tidak hanya berpengaruh di Unu Soviet dan China, tetapi juga di sejumlah negara lain seperti di Indonesia. Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu ditafsirkan beraliran pada tafsir kedua tokoh tersebut.

Akan, teapi apakah semua komunis Indonesia beraliran Lenin dan Mao yang atheis dan menghalalkan segala cara untuk menggerakkan revolusi? Bukankah Tan Malaka yang menganut komunis, justru dianggap “penghianat” dari pelaku pemberontakan PKI 1926 hanya karena ia mengajukan pertimbangan-pertimbangan rasional rencana revolusi saat itu yang menghalalkan segala cara. Begitu pula Hasan Raid,yang sejak kecil terdidik di surau dan murid Haji Rassul (pendiri Pesantren Thawalib Sumbar) ini, meskipun ia mengaku komunis, namun ia adalah pelopor dan setia sebagai pengajar sekolah Islam di Batu Sangkar, Bukittinggi, Sumbar.
Lalu ada Haji Misbach dari Solo. Di tengah kehidupannya sebagai tokoh utama SI garis merah, ia tetap rajin beribadah bahkan sempat menunaikan ibadah haji. Juga dua tokoh komunis dari NTB, Muhammad Basir dan Muslimin Yasin yang pada tahun 1952 menddirikan partai komunis di Lombok dan Sumbawa. Mereka tetap taat beragama Islam berpaham Masyumi dan Muhammadiyah. Itulah sebabnya PKI NTB, seperti diungkap Zakaria (Geger September 65: Rakyat NTB Melawan Bahaya Merah), tidak pernah melakukan revolusi. Gerakannya hanya berkisar soal gugatan monopoli aset-aset ekonomi.
Haruskah orang yang tidak mengerti bedanya PKI dan BTI, para pencuri kelas teri yang hampir pasti tidak kaitanya dengan idelogi komunis, dan santri-santri yang nakal terpaksa merampok, dan kiai desa yang menghadiri pertemuan pembagian air irigasi dibunuh, secara harfiah dan keturunannya dimarjinalisasi bahkan didiskriminasi? Entahlah.
