Kurir Ayam Geprek

Angkot pun bergerak kembali. Dan lelaki inspiratif itu turun. Kulihat dia berdiri mematung memandang tak berkedip ke arah angkot yang membawa pergi wanita yang dilukainya.

Aku berdehem. Tapi cewek itu sama sekali tak melirikku. Aku terus berdehem dengan volume agak kunaikkan. Malang sekali, justru emak-emak itulah yang memperhatikanku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kenapa Mas? Mau batuk? Ada keluarga atau tetangga yang PDP? Atau bahkan ada yang sudah positif Corona mungkin?” tanya wanita di sebelahku mendesak. Seketika kuperhatikan dia. Ada HP butut di tangannya. Dia memakai gelang karet bermasker lusuh dan miring pula memasangnya.

Aku mendesah jengah sebelum menjawabnya.

“Aku positif, Bu,” tukasku, dengan nada emosi.

Seketika penumpang angkot itu panik. Bahkan si sopir mengerem laju angkotnya. Dan, cewek itu pun mulai memperhatikanku, dengan raut takut plus terkejut.

“Serius Mas?” tanya cewek itu.

Aku terbahak-bahak dalam hati. Kutata kalimat untuk menjawab pertanyaan itu.

“Iya. Memangnya kamu mau kuajak serius?” gombalku. Kukira, menggombal adalah salah satu cara menggaet hati wanita yang paling ampuh.

“Apaan sih!” desisnya, dengan raut jijik. Lalu hatiku mencelos.

Ibu-ibu itu mendelik ke arahku.

“Aku mengajak serius,” ucapku sambil tertawa.

Lagi-lagi sial, dia melirik tajam padaku.

“Yang bener aja Mas. Kalau kamu positif Corona sebaiknya segera turun dari angkot ini!” lantang wanita bergelang karet memerintahku.

Aku diam sejenak, meramu jawaban.

“Sabar dulu, ibu-ibu. Maksudku tadi begini. Aku itu selalu positif. Pikiranku selalu positif, maksudku. Karena pikiran negatif hanya akan merusak sistem imun kita. Kalau imun kita buruk, kesehatan tubuh kita juga akan ikut memburuk. Nah, kalau sudah seperti itu penyakit apa pun akan mudah datang. Termasuk Corona itu. Nah, karena saya selalu berpikiran positif, maka saya pun negatif Corona. Alhamdulillah,” paparku panjang lebar.

“Oalah Mas-Mas. Mbok yo bilang dari tadi,” ucap wanita bergelang karet dengan bibir maju beberapa senti.

Dan setelah kulirik, sepertinya cewek itu sedang menahan tawa. Angkot pun terus melaju, menyusuri jalan yang belum begitu ramai. Ruko-ruko masih banyak yang tutup. Walau pemerintah memang telah menerapkan kebijakan new normal, tapi situasi sebenarnya masih belum normal. Jumlah pengidap Corona pun terus melaju pesat, karena masyarakat sangat sembrono dalam menjaga kesehatannya, sama dengan pemerintahnya.

“Mbak,” aku memanggil cewek seksi.

“Ada apa Mas?” dia pun menjawab, menghentikan kesibukannya memainkan HP.

“Mau nasi kotak?” tanyaku. Kukira dia tengah lapar setelah tadi sempat emosi pada lelakinya itu. Tadi ibu menyisakan satu kotak, untuk jaga-jaga apabila ada yang rusak, atau kalau aku didera lapar di perjalanan.

“Apa Mas?” sepertinya dia tak mendengar kalimatku. Memang aku mendadak grogi, suaraku menjadi tak begitu jelas.

“Mbak belum sarapan kan? Makanlah nasi ini. Ayam geprek istimewa buatan ibuku. Makanlah, kamu pasti lelah dan lapar setelah tadi berantem dengan si doi.”

Tinggalkan Balasan