Mereka terlihat tak pernah saling bicara. Pria paro baya yang mendorong kursi roda itu juga tak pernah mengajak bicara wanita yang ada di depannya. Ia mendorong kursi roda itu dengan khusyuk, dalam diam, dan sesekali berhenti jika berpapasan dengan mobil. Setelah mobil dari arah berlawanan berlalu, ia kembali mendorong kursi rodanya dengan pandangan selalu lurus ke depan. Ia nyaris tak pernah menoleh ke kiri atau ke kanan, atau bertegur sapa dengan orang-orang yang melintas di dekatnya. Orang-orang sekitar juga hanya memandangnya sambil lalu. Begitu juga aku ketika pertama kali berpapasan dengannya.
Suatu hari, ketika gerobak yang aku dorong nyaris bersenggolan dengan kursi roda yang ia dorong, kami saling berpandangan, lalu aku membalas senyumnya. Itulah untuk pertama kalinya aku melihat pria paro baya itu tersenyum. Saat itu aku memang agak telat berangkat jualan es dawet di kawasan Setu Babakan. Karena itu aku lumayan tergesa-gesa dalam mendorong gerobak dagangan. Sampai di tikungan jalan yang menurun, persis di depan masjid yang tak jauh dari pintu masuk Setu Babakan, gerobakku tiba-tiba meluncur deras. Aku sampai kewalahan menghentikan atau melambatkan lajunya. Untung saja, lelaki paro baya yang muncul dari arah berlawanan itu lebih dulu menghentikan kursi rodanya. Aku pun punya waktu sepersekian detik untuk bermanuver sehingga gerobakku terhenti dan senggolan antara gerobak dengan kursi roda dapat dihindari. Saat itulah, pria paro baya itu memandangku sembari tersenyum. Dan aku pun melakukan hal yang sama. Sepertinya kejadian itu tak dihiraukan oleh wanita tua renta yang duduk di atas kursi roda itu. Ia tetap duduk mematung. Tapi sejak itu, tiap hari, setiap kali berpapasan, aku dan pria paro baya itu saling bertukar senyum. Tapi hanya itu.

Entah setelah berapa lama sejak peristiwa itu, dalam beberapa hari aku tidak berpapasan dengannya. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi. Diam-diam aku seperti merindukannya. Merindukan pria paro baya itu. Merindukan wanita tua renta itu. Juga merindukan kursi rodanya. Mengingatnya, aku justru membayangkan akulah pria paro baya itu, yang mendorong kursi roda yang diduduki oleh ibuku. Ada rasa iri dan cemburu yang menjalar dalam tubuhku, sebab sudah sekian lama aku ingin membeli kursi roda untuk ibuku yang sudah bertahun-tahun hanya tergolek di ranjang akibat stroke. Usianya sebaya dengan wanita di kursi roda yang didorong pria paro baya itu.
Suatu hari pria paro baya itu muncul lagi. Tapi kali ini kemunculannya sungguh membuatku kaget. Ia tetap berpenampilan seperti biasanya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Ia tetap dengan khusyuk mendorong kursi rodanya di lajur jalan yang sama. Yang membuatku kaget adalah apa yang ada di atas kursi rodanya. Bukan lagi wanita tua renta seperti biasanya, melainkan sejumlah perkakas bekas. Ada kardus kecil entah apa isinya. Ada baling-baling kipas angin. Ada mesin penanak nasi. Ada beberapa buku lusuh. Ada beberapa botol minuman dalam tas plastik kisut. Ada beberapa pasang sepatu bekas. Ada pula panci, timba bekas, dan entah apalagi. Namun, meskipun yang diangkut oleh kursi roda itu sudah berbeda, pria paro baya itu tetap bersikap sama, melempar senyum ketika berpapasan denganku. Dan hanya itu. Karena itu aku tidak berani untuk bertanya apakah ia sedang jual beli barang rongsokan. Yang membuatku semakin heran, pada hari-hari berikutnya, isi kursi rodanya tidak berubah sama sekali, ya hanya barang-barang bekas itu-itu saja.
Tapi itu tidak berlangsung lama, sebab beberapa hari kemudian aku mulai tidak lagi berpapasan dengannya. Terkadang aku berangkat lebih awal dan mendorong gerobak lebih lambat, siapa tahu jam-jam pria paro baya itu mendorong kursi rodanya memang sudah berubah. Tapi tetap saja, meskipun sudah berlama-lama di jalan, aku tak lagi berpapasan dengannya. Aku pun penasaran, apakah pria itu sudah menjual kursi rodanya. Ketika ada warga sekitar Setu Babakan membeli es dawet, aku coba-coba bertanya, siapa tahu ada yang mengenal pria paro baya pendorong kursi roda itu. Ternyata ada yang mengenalnya, dan darinya aku memperoleh nama dan alamatnya.
Tak perlu menunggu lama, meskipun hari masih siang aku sudah meninggalkan Setu Babakan. Bukan untuk pulang, aku mendorong gerobakku menuju alamat pria paro baya itu. Setelah berjibaku menyusuri gang sempit dengan mendorong gerobak, aku akhirnya menemukan rumah pria paro baya itu. Saat itu ia sedang duduk terdiam di teras rumahnya, hanya ditemani barang-barang rongsokan yang biasa diangkut oleh kursi rodanya. Tapi aku tak melihat kursi rodanya. Ketika menyadari kedatanganku, ia memberi sambutan dengan senyumannya. Aku memasukkan es dawet ke dalam gelas, dan mengulurkan ke arahnya.
“Nikmat,” ujarnya sesaat setelah menyeruput es dawet daganganku. Dan aku pun duduk di sebelahnya. Ketika ia terlihat menikmati es dawet pemberianku, aku mulai bertanya-tanya tentang wanita tua renta yang biasa ia dorong di atas kursi roda. Sambil memegang erat gelasnya, dengan mata menerawang, ia bercerita tentang wanita tua renta itu. Sudah bertahun-tahun ia hanya hidup untuk merawat ibunya yang menderita stroke itu. Sebisanya. Ia mengaku sangat beruntung dan bahagia, ketika ada seorang tetangga memberinya kursi roda bekas. Ia akhirnya bisa mengajak ibunya keluar rumah, berjalan-jalan sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Itulah, katanya, saat-saat yang paling membahagiakannya.
