“Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama,” katanya. Stroke itu akhirnya merenggut nyawa ibunya. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Sambil melihat barang-barang bekas yang berserakan, aku pun bertanya apakah ia mulai jual beli barang-barang rongsokan.
“Tidak,” katanya. Setelah berhenti beberapa saat, ia melanjutkan kata-katanya, “Aku hanya tak ingin kebahagiaan itu berlalu begitu saja. Setelah ibu tidak ada, barang-barang bekas ini yang akhirnya aku naikkan ke atas kursi roda, sampai bobotnya sama dengan berat badan ibuku, lalu aku mendorongnya seperti biasa, seperti ketika ibuku masih ada.”

Tak terasa mataku basah mendengar ceritanya. Aku kembali membayangkan diriku juga bisa mendorong kursi roda yang bisa membawa ibuku berjalan-jalan entah ke mana. “Sekarang di mana kursi rodanya? Mungkin aku bisa meminjamnya sebentar, atau membelinya dengan cara mencicil jika memang sudah tidak dipakai,” kataku.
Ia kemudian berdiri, mengajakku masuk ke dalam rumahnya. “Lihatlah…,” katanya sambil jongkok di samping kursi rodanya. “Ambulans laknat itu menghancurkan segalanya.”
Beberapa hari lalu, katanya, kursi roda itu diseruduk mobil ambulans yang sedang melaju kencang. Kursi roda itu terlempar ke trotoar lalu melenting membentur gapura rumah orang kaya. Rangkanya patah. Satu rodanya melengkung sampai hampir membentuk angka delapan.
“Aku harus menggotongnya untuk membawanya pulang,” ujarnya sambil mengelus-elus kursi rodanya. Aku pun ikut jongkok di sampingnya, turut membelai-belai kursi roda yang sudah menjadi barang rongsokan itu.
