“Kau tahu kenapa Mbah Setu awet sehat dan kuat?” tanyaku, kembali mengalihkan pembicaraan.
“Kau tahu Mas Tara sampai cari utangan demi membelikan kalung istrinya?” lagi-lagi ia tak menggubris pertanyaanku. Mulutnya tak berhenti bicara, dan tangannya terus bekerja.

“Karena istrinya cantik dan tidak cerewet,” kujawab sendiri pertanyaanku tadi.
Peret untuk mengupas kulit ketela itu tiba-tiba ia jatuhkan. Ia menatapku lekat. Kulihat ada cahaya api amarah yang berkilat-kilat di matanya. “Kau suka sama Mbak Tutik?” nada suaranya meninggi memecah senyap dan gulita malam.
“Bukan! Kau salah sangka!” tangkisku cepat.
“Jangan mengelak Mas!”
“Maksudku istrinya Mbah Setu.”
“Apa! Kau bilang istrinya Mbah Setu cantik? Dasar lelaki mata keranjang. Wanita jompo masih juga dibilang cantik!”
Desau angin semakin kencang bertiup. Goyangan lidah api semakin erotis, meliuk-liuk hingga padam kemudian. Hawa dingin pun kian menguar, menembus kulit serta merangsang kantung kemih untuk sebentar-sebentar mengeluarkan cadangan airnya. Istriku melangkah ke dalam rumah dengan kaki dihentak-hentak. Kopi kuhabiskan dan aku beranjak mengikuti langkah kakinya.
Semalam suntuk tiupan angin terus berdesis-desis. Dan kurasakan malam begitu dingin menyiksa. Aku gelesotan di lantai beralaskan tikar pandang. Sedang di sampingku hanya ada bantal guling. Pintu kamar telah tertutup rapat. Sepasang cecak yang berguling-guling di belandar tak henti-hentinya menertawakanku. Ketika cahaya mentari pagi mulai menerobos dinding bambu rumah aku kemudian perlahan bangun.
“Ari! Cepetan mandi! Sekolah!” cerocos istriku yang tengah sibuk di dapur. Aku sendiri baru usai salat.
“Mbah Setu belum lewat, Bu! Masih pagi!” dari arah kamar kudengar lantang suara anak pertamaku menyahut. Mbah Setu selalu lewat depan rumah jam enam pagi. Dan itu kami pakai sebagai penanda waktu.
“Mbah Setu nggak lewat hari ini! Libur!” suara istriku tak kalah lantang.
Tak terdengar lagi sahutan anakku. Bau sambal terasi menguar dari dapur, memenuhi seantero rumah dan kemudian menusuk-nusuk hidungku. Selera makanku seketika tergiur. Cepat-cepat kuselesaikan bacaan dzikirku. Perut terasa semakin lapar karena semalam hanya makan singkong bakar.
Beberapa saat kemudian terdengar suara gesekan sendal Ari. Dia melangkah dengan malas menuju kamar mandi. Berpapasan denganku yang berjalan menuju dapur.
“Nah! Itu Mbah Setu baru lewat!” celetuknya. Kuintip jalan depan melalui lubang dinding bambu. Tak kulihat ada orang lewat di sana. Ari menoleh ke arahku sambil menyeringai dan terus berlalu. Dasar anak menyebalkan!
Istriku melirik tajam melihat tangkas tanganku meraih piring di rak. Di dekatnya bergelantunganlah berbagai macam perkakas dapur. Panci, spatula, wajan, periuk, serta perkakas-perkakas lain yang menempel di gedek, seolah sedang mencibirku. Kuamati pula tembok yang penuh jelaga. Kuhela napas pelan-pelan. Dan ketika telah kuisi piringku dengan secentong nasi, terdengarlah suara ketukan di pintu depan.
“Buka dulu pintunya! Siapa tahu malaikat pembagi rezeki!” teriak istriku dari halaman belakang, menjemur cucian pakaian orang serumah. Kutaruh lagi piringku. Mulutku berdecih kesal.
“Biarkan saja. Malaikat maut biasanya juga pagi-pagi benar bertamunya,” sahutku.
Suara ketukan pintu semakin nyaring. Dan semakin nyaring pula untaian kata dari mulut istriku. Kubukalah pintu dengan enggan. Perut kosongku gagal terisi. Tampak ada Mbah Setu di situ. Ia tengah berdiri memaku. Kuamati penampilannya. Celana komprang warna hitam yang biasa ia kenakan tiap hari itu telah berwarna kusam. Baju kotak-kotaknya lusuh dan sedikit berbau. Caping bambu bertengger menutup kepalanya. Dan keriput serta lipatan-lipatan kulit cukup menunjukkan betapa dia tak lagi muda. Tapi tampak jelas ada gairah hidup yang menyala-nyala di sudut cerah senyumnya. Ada apa kiranya? Hatiku menggerutu tak sudah-sudah.
“Bapak punya pompa angin?” tanyanya kemudian.
“Mau ke mana pagi-pagi begini Mbah?” kutimpali pertanyaannya dengan tanya pula.
“Mau nengok ladang, Pak,” dia menjawab pelan. Capingnya ia lepas, menampakkan kepala yang telah ditutupi rambut berwarna putih.
“Sepagi ini?” aku menimpali.
Mbah Setu tersenyum, menampakkan gigi yang tinggal beberapa.
“Jadi, pompanya tidak ada, Pak?”
“Maaf, tidak ada Mbah,” sahutku cepat.
Ia mengucap terima kasih lantas beringsut pergi. Aku pun kembali ke dapur. Kubiarkan orang tua itu menuntun sepeda kempisnya agar mendapat pelajaran. Orang seuzur dia seharusnya sudah mulai meninggalkan perkara dunia. Harusnya ia menata diri untuk menyambut datangnya kematian. Dan tak sepantasnya Mbah Setu yang setua itu berangkat pagi pulang sore setiap hari untuk mengejar dunianya.
Ah, orang itu telah pergi, tak perlu lagi pikiranku berkutat tentang dirinya. Perutku pun semakin terasa diremas-remas. Bergegas kakiku melangkah ke dapur lagi.
“Pinjam pompa?” tanya istriku tatkala kuberitahu tamu yang ia kira malaikat pembagi rezeki tadi ternyata adalah Mbah Setu yang sedang mencari pinjaman pompa angin.
“Kok cepat sekali?”
“Tak jadi.”

Mbah Setu adalah nonfiksi. Ragam manusia dengan keunikannya. Suatu hari, aku bertanya, “Mbah kenapa ko solatnya di bawah pohon? Memangnya Mbah nyembah pohon?”. Mbah Setu menjawab singkat, “Aku tidak menyembah pohon, tapi menyembah yang membuat pohon”. Aku terdiam. Skak!
Wah, sepertinya perlua dikuak sosok mbah setu dg sudut cerita yg berbeda😊😊😀