Ladang Mbah Setu

“Kenapa?”

“Tak ada pompa.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Memangnya di belakang pintu itu apa namanya kalau bukan pompa?”

Terjadilah adu mulut diantara kami.

“Bukankah katamu orang setua dia harusnya sudah mulai menyiapkan diri untuk menyambut akhirat? Tak kupinjami dia pompa agar kembali pulang. Melupakan ladangnya.”

Perempuanku itu makin menyerang. Dikatakannya aku adalah lelaki yang tak punya hati. Menasihati orang itu baik, tapi tidak begini caranya. Kuiyakan saja kata-katanya. Tak ingin aku menderita kedinginan lagi malam nanti.

Ketika anak-anak telah berangkat ke sekolah kami berangkat mencari rumput tidak jauh dari belantara hutan. Rumput ilalang yang tumbuh subur di pesisir selatan desa adalah makanan kesukaan sapi yang kami pelihara. Hari ini entah mengapa tiba-tiba istriku iseng mengajak ke sana. Biasanya kami menyabit di sekitar rumah. Terik matahari yang melelehkan keringat tak menyurutkan semangat. Kami terus mengayunkan sabit untuk mengumpulkan makanan sapi itu.

“Sepertinya aku pernah melihat sepeda itu,” ucap istriku sembari mengelap keringat di mukanya.

Kulihat memang ada sepeda yang teronggok di balik semak belukar pinggir jalan setapak. Tak salah lagi, itu sepeda milik Mbah Setu. Ban sepeda itu masih kempis ketika kulihat dari jarak dekat. Tak pelak rasa penasaran mencuat di benakku. Tak kulihat dia di sekitar sepeda itu. kemana orang itu?

Akhirnya kusempatkan mencari Mbah Setu setelah keranjang rumput kami penuh. Kutemukan juga akhirnya jejak Mbah Setu setelah mencarinya kesana-kemari. Di sebuah lereng bukit kulihat dia tengah mengerjakan sesuatu. Rasa penasaranku makin memuncak melihatnya berjibaku dengan tanah tandus di bawah terik matahari. Aku terus mendekat. Di belakangku ada istriku yang turut serta.

Pundak legam itu dibanjiri peluh. Kulitnya berkilat-kilat. Dan otot-otot di tubuhnya menjadi bukti bahwa tubuh orang tua itu masih cukup tangguh. Sambil membungkuk tangannya mengayunkan cangkul.

Terlihat parit kecil hasil cangkulannya telah memanjang melilit bukit. Ada sedikit air yang mengaliri parit kecil itu. Suaranya bergemericik meneduhkan hati. Di samping parit kulihat ada botol minuman berisikan air yang tinggal separo. Jakunku naik turun menahan haus. Tapi kemudian aku tak jadi meminta air itu mengingat kejadian pagi tadi.

Aku terus mendekat. Ia tak melihat kehadiranku ketika aku dan istriku duduk di bawah pohon jati meranggas di dekatnya. Bahkan ia terkaget mendengar sapaanku. Kuredakan keterkejutannya dengan deraian tawa.

“Untuk apa berlelah-lelah menggali parit di bukit tandus seperti ini Mbah?” tanyaku akhirnya.

Dia menyeringai, memperlihatkan beberapa buah gigi yang masih setia menemani hari tuanya.

“Untuk mengairi ladang, Pak,” sahutnya.

“Maaf, tidakkah Mbah Setu tahu bahwa aliran air di parit ini tak akan bisa menghilangkan dahaga di alam barzah nanti?” ucap istriku penuh sarkas.

Seketika ayunan cangkul Mbah Setu terhenti. Bibir keringnya masih memberikan seulas senyum.
“Aku tidak tahu, Bu. Yang penting aku telah berusaha memberi makan dan minum untuk anak cucuku. Aku ingin memastikan mereka tidak akan kehausan atau kelaparan,” ucapnya. Usai menjawab pertanyaan istriku dia kembali mencangkul.

“Kenapa mereka tidak membantumu?” tanyaku pula.

Hanya kesiut angin lereng perbukitan yang memberiku jawab atas pertanyaan itu.

“Anak-anakmu di mana, Mbah?” imbuhku.

“Sebaiknya gunakan sisa umurmu untuk menyiapkan bekal akhirat, Mbah,” istriku bernasihat.

Dia terus mencangkul. Tetesan keringatnya seolah-olah memberi tahuku sesuatu; dia sedang tidak ingin diganggu. Dan setelah lama kuperhatikan ternyata air yang menetes di pipinya itu bukanlah keringat. Orang tua itu sedang menangis. Tiba-tiba ia menghentikan pekerjaannya. Kemudian berdiri dengan tubuh gemetar. Pandangan matanya menghunjam ke arah kami.

“Salahkah jika orang tua ini membuatkan sawah agar anak-anaknya mau pulang?”

Dahiku mengernyit memahami kata-katanya.

“Bertahun-tahun aku merindukan anak-anakku yang jauh merantau ke pulau seberang. Aku tak menyalahkan mereka, karena aku tak mampu memberinya makan di desa ini. Mereka mendapat sawah dari pemerintah di perantauan sana. Dan di sini, jika aliran sungai itu sudah bisa kubawa ke ladang, aku akan punya sawah. Harapanku agar bisa ditemani anak-cucu di usia senja ini akan menjadi kenyataan.”

Napasnya terengah-engah. Keringatnya masih bercucuran. Kami terdiam mendengar ceritanya. Mbah Setu kemudian mencuci muka di parit. Tangan dan kakinya pun ia basuh. Ternyata ia berwudhu dengan air di parit itu. Ia melangkah meninggalkan kami setelah minta izin untuk menunaikan salat dhuhur.

“Kenapa kamu tak pernah mampir salat jamaah di musala kampungku Mbah?” pertanyaanku menghentikan langkahnya.

“Istriku sudah menunggu jamaah salat denganku di rumah,” tukasnya sambil melanjutkan langkah.

Aku menelan ludah dan beradu pandang dengan istriku. Sinar mentari semakin terik mengeringkan tenggorokan. Rasa haus seolah mencekikku.

Mentaraman, 29 Agustus 2020.

2 Replies to “Ladang Mbah Setu”

Tinggalkan Balasan