Lailatulqadar: Antara Kepastian Ilahi dan Ijtihad Ulama

Jika memang pasti jatuh pada satu tanggal, mungkin sebagian orang hanya akan beribadah penuh di malam itu dan mengabaikan malam lainnya. Tetapi dengan ketidakpastian ini, umat Islam justru didorong untuk terus meningkatkan ibadah di sepanjang sepuluh malam terakhir.

Dalam fikih, ada dua pendekatan dalam memahami Lailatulqadar. Pertama, mereka yang berusaha meneliti tanda-tanda malam tersebut berdasarkan dalil-dalil syar‘i dan pengalaman para ulama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Beberapa hadis menyebutkan bahwa Lailatulqadar ditandai dengan suasana malam yang tenang, langit cerah tanpa hawa panas maupun dingin, serta matahari pagi yang terbit tanpa sinar menyilaukan.

Ini menjadi semacam clue bagi mereka yang ingin mencermati kapan malam itu terjadi.

Pendekatan kedua adalah pasrah pada ketetapan Allah. Ulama seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Al-Ghazali menyebutkan bahwa hikmah dari dirahasiakannya Lailatulqadar adalah agar manusia tetap konsisten dalam beribadah.

Jika malam itu ditetapkan secara pasti, manusia cenderung hanya beribadah pada malam itu dan melupakan malam-malam lainnya. Allah ingin melihat kesungguhan hamba-Nya, bukan hanya menunggu satu malam penuh keistimewaan.

Alih-alih sibuk mencari kapan pastinya Lailatulqadar, lebih baik kita mengambil pelajaran dari cara Rasulullah menghadapinya. Dalam banyak riwayat, Rasulullah semakin giat beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadan.

Tinggalkan Balasan