Oleh karena itu, selama ego dan kecintaan terhadap dunia, yang bendawi, masih bersemayam dalam hati, selama itu pula kita tidak dapat mencapai puncak cinta sejati. Akhirnya, ketika seseorang telah menjernihkan hatinya dari segala karat duniawi, mengosongkan hatinya dari semua bentuk dualitas, dan menghiasinya dengan cinta sakral Ihali semata, saat itulah ia akan menjelma seorang “manusia Tuhan”. Manusia ideal yang menjadi cerminan dari keindahan Sang Ilahi. Wallahu a’lam.
*dikutip dari berbagai sumber

Referensi:
Chittick, William C. Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi. Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001.
Jannah, Miftahul. Teologi Sufi Kajian Atas Mistisisme Cinta Jalaluddin Rumi. Yogyakarta: Jurnal Al-Aqidah, 2020.
Rumi, Jalaludin. Diwan Syams Tabrizi. Yogyakarta: FORUM, 2008.
Rumi, Jalaluddin. Fihi Ma Fihi: Mengarungi Samudera Kebijaksanaan. Yogyakarta: FORUM, 2018.
