“Iya Bu, makasih banyak, Bu,” ucapku sambil bergegas menuju sumur. Setelah buang air dan berwudhu aku cepat-cepat keluar, takut ketinggalan bus. Kuhirup kesejukan yang disajikan oleh alam sekitar. Tidak jauh dari sumur ada sungai yang mengalir cukup deras. Setelah beberapa kejap aku menikmati pemandangan sekitar aku kembali meneruskan langkah menuju jalan raya.
Detik berikutnya aku ingat sesuatu. Tasku tadi di mana? Di mana perempuan tadi? Aku benar-benar terkejut. Jantungku terasa berlarian. Rasa marah dan takut menyala di ubun-ubun. Dan tubuhku tiba-tiba terasa lemas. Di dalam tas itu ada kitab, laptop, HP, serta arloji bahkan uang juga ada di dalamnya. Ke mana perginya perempuan itu? Aku semakin panik. Setelah kuedarkan pandangan mataku ke segala arah aku akhirnya melihatnya di kejauhan. Dia sudah berada di kejauhan melewati pematang-pematang sawah di seberang sungai.

“Tasmu dibawa perempuan itu?” tiba-tiba ada suara lelaki tidak jauh dariku. Aku semakin terkejut kala melihat ternyata dia adalah lelaki bermasker yang duduk di sampingku tadi. Tubuhku mulai gemetar ketakutan.
“Hei Mbak. Kau dengar suaraku?” tanyanya lagi.
“Apa?”
“Perempuan itu mengambil tasmu?”
Aku mengangguk. Dia lantas menyusuri pematang sawah yang dilalui perempuan itu. “Mau ke mana?” tanyaku tak paham. Apakah mereka bekerja sama?
“Kamu masih ingin tas itu kembali?” dia bertanya sambil berjalan. Aku mengikutinya ragu-ragu.
“Iya!” teriakku. Lelaki itu sudah berada agak jauh di depanku.
“Kamu tunggu di sini saja biar aku ambilkan!” teriaknya. Dia mau mengambilkan tasku? Benarkah pendengaran telingaku? Zaman seperti ini jumlah orang baik semakin sedikit. Kalaupun ada pasti ada maunya. Akhirnya aku melanjutkan jalan kaki mengikuti mereka. Lelaki itu sudah tidak tampak karena langkahnya sangat cepat. Tenagaku pun sudah mulai habis. Dan batinku menangis. Tas berisi barang-barang berharga itu semakin jauh dariku. Terbayang jelas di benakku bagaimana raut sedih kedua orang tuaku akan mendengar musibah ini.
Aku berhenti di sebuah gubuk di tengah sawah. Tangisku pecah di antara gemericik air pancuran sawah dan tetesan gerimis. Tak kukira pulang kampung yang kuharap-harapkan kedatangannya ini ternyata akan begini ceritanya. Semalam aku berpikir tidak disibukkan dengan aktivitas pondok serta kesibukan kuliah akan memberiku kebahagiaan, ternyata di tengah jalan ada musibah begini rupa. Selain itu laptop yang belum lama kubeli itu didapatkan dengan perjuangan penuh keringat ayahku. Hasil panenan singkong serta jagung habis untuk membeli laptop itu. Mengingat semua perjuangan keras ayahku itu tangisku semakin menjadi-jadi.
Aku terus meratapi diri di dalam gubuk hingga beberapa saat lamanya, tak tahu harus berbuat apa. Isakan tangisku baru terhenti ketika ada suara langkah kaki yang mendekat ke gubuk. Degup jantungku kembali berulah. Melalui lubang-lubang dinding bambu aku mengintai siapa yang datang. Ternyata lelaki itu. Ada tasku di gendongan pundaknya. Tubuhku kembali terasa lemas karena menahan rasa takut. Mungkin dia juga mau berbuat jahat padaku.
“Mbak!” panggilnya. Aku semakin ketakutan.
“Mbak! Kamu masih di sini kan?” teriaknya. Dia berjalan mendekat ke gubuk. Aku bersembunyi di bawah amben.
“Mbak nggak usah takut. Aku tidak berniat jahat padamu. Ini tasnya sudah aku kembalikan. Aku taruh di amben ya,” ucapnya pelan.
“Di mana perempuan jahat itu?” aku memberanikan diri bertanya.
“Melihatku hampir bisa menangkapnya dia meletakkan tas itu dan lantas berlari melewati jalan tikus. Aku tidak mengejarnya karena takut dia menjebakku. Aku ambil tasmu. Silakan lihat isinya apakah ada yang dia ambil?” paparnya.
“Jadi dia sudah lari?” aku bertanya lagi. Rasa takutku mulai hilang.
“Iya,” lelaki bermasker itu menjawab pertanyaanku dengan singkat tanpa melihat ke arahku. Seingatku dari tadi dia juga tidak melihat ke arahku.
Aku keluar dari persembunyian. Kuambil tasku dan aku lihat isinya ternyata masih utuh. Aku sangat bersyukur, kuucap hamdalah berkali-kali. Kulihat lelaki itu sudah berjalan meninggalkanku.
“Mas tunggu!” aku berteriak menahan langkahnya.
“Ada apa Mbak?” tanyanya tetap tanpa melihat ke arahku.
“Kenapa kamu menolongku? Kenapa kamu mengikutiku?”
