“Bukankah menolong merupakan perilaku baik? Diganjar kebaikan itu dengan pahala yang berlipat ganda oleh Yang Kuasa di bulan suci ini?” ucapnya sok bijak. Aku masih penasaran kenapa dia tadi mengamatiku, lalu duduk di dekatku bahkan sampai mengikutiku ke sini. Dan sekarang tiba-tiba dia tidak mau melihat mukaku.
“Aku tak percaya. Kamu pasti seseorang…” aku bingung harus melanjutkan ucapanku.

“Iya. Aku memang orang,” jawabannya dilengkapi dengan deraian tawa.
“Kamu sebenarnya siapa?” aku semakin berteriak. Dia mulai berjalan. Dan aku mengikutinya di belakang.
“Kamu kenapa mengikutiku?” dia malah menjawabku dengan pertanyaan lain, membuatku jengkel.
“Pulanglah, memangnya mau ke mana? Jalannya kan cuma ini. Hei Mas, kamu belum menjawab pertanyaanku. Siapa kamu sebenarnya?” aku mengulang pertanyaan. Kali ini aku berjalan tidak jauh di belakangnya. Entah kenapa aku merasa aman dan nyaman berada di dekatnya. Sepertinya dia memang orang baik. Dan aku punya utang budi padanya.
“Kamu belum berterimakasih padaku,” tukasnya. Jleb! Tiba-tiba aku merasa malu.
“Oh iya maaf. Terima kasih atas pertolongannya, Mas. Tapi kamu siapa?”
“Tadi aku melihat ada logo pondok Al-Hikmah di kerudungmu. Aku merasa kita adalah satu keluarga,” ucapnya.
“Ha? Kamu mengajakku berkeluarga?”
“Aduh! Maksudku aku juga di Al-Hikmah. Dan melihatmu diincar copet aku merasa prihatin. Perempuan itu tadi sudah berhasil mengambil dompet seseorang di perjalanan, tapi terjatuh dan diambil lagi oleh pemiliknya. Pemilik dompet itu tidak tahu jatuhnya karena diambil pencopet perempuan itu. Makanya aku duduk di dekatmu karena khawatir pencopet itu akan beraksi saat kamu tidur.” Kali ini aku begitu terharu mendengar ucapannya. Dan sepertinya aku terpesona.
“Terima kasih banyak ya, Mas. Jadi ternyata sampean adalah santri putra Al-Hikmah?”
“Iya,” jawabnya pendek dan terkesan angkuh.
“Lalu kenapa kamu tak mau melihat aku?” kuberanikan diri menggodanya. Dia diam saja.
“Mas?” panggilku.
“Jika aku melihat kecantikanmu aku takut menolongmu hanya karena nafsu, bukan lillahita’ala.”
Jawabannya menggetarkan hatiku. Perasaanku seolah terbang melayang.
“Sebenarnya kamu siapa, Cak?” aku mengulang pertanyaan untuk yang ke sekian kalinya.
Tiba-tiba dia berhenti. Aku mendadak nervous. Lelaki itu membuka maskernya. Deg!
“Gus Mus?” desisku spontan. Aku sangat terkejut. Ternyata dia Gus Mus putra kiaiku yang mondok di Tulung Agung itu. Bagaimana aku harus melukiskan rasa maluku bertingkah centil di depan gusku sendiri seperti ini?
“Maaf Gus, saya tidak tahu ternyata jenengan. Sekali lagi mohon maaf telah bertindak tidak sopan kepada jenengan,” aku memohon maaf dengan sepenuh hati.
“Iya Mbak, kumaafkan. Tapi sebaiknya jadi perempuan jangan centil, apalagi kamu seorang santri. Ya sudah, sekarang ayo kita cepat-cepat, jangan sampai ketinggalan bus. Aku harus segera kembali ke pondok.”
Kami berjalan cepat. Dia berada agak jauh di depanku. Pikiranku tidak karuan. Rasanya ini adalah pengalaman yang paling memalukan seumur hidupku.
