Begitulah.
Orang-orang pasar lama-lama mengenalnya sebagai orang gila. Sebab lelaki itu memang tidak pernah bicara sepatah pun. Dan kalau pun bertemu orang ia akan melakukan ritualnya. Namun setelah beberapa hari lelaki itu berada di pasar, sesuatu yang tidak pernah disangka, terjadi.

Aku baru selesai berbelanja dan menuju parkiran. Sebuah pohon tua dan besar rubuh menimpa truk dan lapak penjual. Semua orang berteriak, lari kalang kabut menyelamatkan diri. Salah satu perempuan penjual ayam potong pingsan melihat lapaknya hancur. Perempuan lain, penjual sayur dan tahu memalingkan muka. Berseru ‘Allah Akbar’ dan ‘Allah’ di tengah kegemparan yang terjadi.
Juru parkir dan pekerja serabutan yang berada di dekat kejadian segera berlari membawa kapak, golok, gergaji, dan alat potong lain. Mendengar suara minta tolong dari dalam truk, preman pasar segera berlari ikut membantu dan berseru. “Ada orang, ada orang….”
Kerja mereka dipercepat: mengayuhkan kapak, menggergaji batang pohon besar, menancapkan golok tak henti seperti tidak ada waktu untuk bersantai-santai. Namun itu semua percuma. Pemuda di dalam truk belum bisa keluar. Mereka masih melakukan hal yang sama.
Lalu dari arah timur lelaki peminta-minta berjalan ke parkiran. Ia berhenti di depan pohon itu dan menengadahkan tangan sambil berkata-kata dengan cepat, berlirih ‘amin’. Orang-orang yang melihatnya mengolok-olok dan memintanya segera menjauh.
Namun keajaiban terjadi. Pemuda yang terjebak reruntuhan pohon itu keluar sendiri dengan gampangnya seolah tidak ada pohon yang menimpa truk. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa melongo tidak percaya. Para lelaki yang susah payah memotong batang pohon, turun dan menggoyang-goyangkan tubuh pemuda tersebut. Benar. Pemuda itu memang nyata. Ia selamat.
“Masyaallah!”
“Dia bisa keluar…,”
“Ba-ba-bagaimana bisa?”
“Lihalah, dia tidak apa-apa.”
