Lelaki yang Berguru kepada Air

#

Semakin hari, Raka semakin akrab dengan air. Saat ibunya pergi ke hutan di pagi hari, ia sering menuju ladang hanya untuk melihat air yang melumasi dedaunan yang kadang menyatu ke ujung daun sebelum membutir jatuh ke tanah. Pada kejadian itu, ia berkesimpulan bahwa air senantiasa menempuh masa depan dengan erat persatuan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika sedang turuh hujan, ia sering menatap air yang mengalir dari ujung pancuran bambu di depan rumahnya; air yang menderas dengan arah jatuh yang melengkung itu membuatnya damai. Ia memetik pelajaran berharga bahwa air tak sudi bersombong ria di atas ketinggian, melainkan terus berusaha turun ke bawah hidup bersama benda-benda yang tak suka tahta yang tinggi.

Saat melintasi persawahan, ia sejenak duduk di tepian yang dilaluli parit; memperhatikan air bening yang mengalir tenang, yang kadang menghanyutkan daun-daun kecil dan di dasarnya ikan-ikan berkejaran menikmati kehidupan. Kedua matanya turuti arah aliran itu hingga di bagian ujung yang mengairi batang-batang padi di petakan sawah.

“Betapa air itu memberikan kehidupan,” getar bibirnya pelan.

Sejak Raka menyatakan berguru kepada air, ibunya memang melihat perubahan besar terjadi pada Raka. Raka menjadi anak penyabar dan gigih. Jika membantu ibunya mencari kayu bakar, ia tak pernah mengeluh dan mengaduh. Wajahnya tetap terlihat damai diliputi rasa kesabaran meski harus melintasi beragam medan jalan yang sulit dalam keadaan memanggul kayu. Itulah sebabnya kini ketika Raka sedang berlama-lama menatap air, ibunya tak pernah mengusiknya, karena ibunya menganggap Raka sedang bersekolah.

#

Sudah seminggu Raka mencoba belajar tegar kepada butir-butir air yang keluar dari celah batu di belakang rumahnya, air yang resap lalui ceruk berdebu dengan pancar sederhana tetapi mampu menghidupi dua batang singkong hingga tumbuh kekar karena ketegarannya. Raka mencoba tetap tegar sebagaimana air itu menjalani hidup sebagaimana mestinya meski batinnya menanggung beban luka karena ibunya tak kunjung pulang sejak pamit untuk mencari kayu seminggu yang lalu.

Raka sudah menghubungi warga lain di sekitar lereng hutan untuk membantu mencari ibunya dan selama dua hari warga bahu-membahu mencari ibu Raka, memasuki hutan dan lembah sejak pagi hingga sore tetapi tetap tak berhasil.

Beberapa hari kemudian tersiar kabar, pada hari ketika ibu Raka mencari kayu, ada sekelompok anak-anak yang sedang mandi di sungai Jumariya—sungai tempat Raka biasa menikmati alir air—melihat jasad perempuan mengambang sambil diseret arus dari arah hulu ke hilir. Anak-anak itu baru berani bercerita setelah berhari-hari dicekam ketakutan. Kabarnya tubuh perempuan itu menebar wangi dan ada potongan ranting kayu yang tersangkut erat pada bagian bajunya. Banyak warga menduga perempuan itu adalah ibu Raka yang mungkin kecelakaan saat mencari kayu.

Kini Raka hanya mampu berdiam di tepi sungai itu, menjatuhkan air matanya ke aliran air yang ia anggap gurunya, seraya berharap air itu akan membawa ibunya ke surga. Dalam suasana duka, ia juga berguru kepada jenis air baru, yakni air matanya sendiri.

Tinggalkan Balasan