“Bahkan di hari Minggu?”
“Ya. Begitulah.”

Akhirnya perkumpulan itu menemukan topik serius untuk dibicarakan. Satu per satu para istri dan ibu rumah tangga kompleks perumahan Kalirejo itu memberikan pendapatnya. Bahkan, beberapa kali sempat terjadi perdebatan sengit mengenai perilaku suami Bu Irma yang belum juga memahami betapa berat dan sulitnya pekerjaan seorang istri di rumah.
Sementara itu, Bu Irma terus menyimak dan mencatat beberapa masukan yang coba diusulkan oleh anggota ibu-ibu yang menamakan diri mereka Aliansi Ibu-ibu Sekompleks Kalirejo. Mulai dari strategi ngambek, mengajak bertengkar, dan lain sebagainya. Akan tetapi, semua usulan itu tampaknya tak ada yang mengena di hati dan pikirannya. Bu Irma tak dapat memutuskan cara mana yang akan dipakainya. Meskipun demikian, ia bertekad akan berhasil menaklukkan suaminya itu.
“Coba sampean pakai trik ngambek. Itu sangat ampuh. Saya pernah ngambek. Gak makan seharian. Akhirnya suami saya mau mengerti keinginan saya,” kata salah satu ibu yang duduk di bangku taman.
“Saya malah berani mengancam akan pulang ke rumah orang tua saya jika saya diperlakukan seperti pembantu oleh suami saya sendiri. Dan cara itu berhasil,” kata ibu yang lain.
“Tapi suami saya ini berbeda dari suami ibu-ibu semua,” sahut Bu Irma, dan itu membuat ibu-ibu dalam ruangan itu tercengang.
“Maksud Bu Irma?”
“Suami ibu spesial? Apa dia memperlakukan ibu lebih parah dari yang pernah kami alami?”
“Tidak juga. Sebenarnya suami saya tidak spesial. Cuma ia orang yang sering menyendiri. Saya sebenarnya sudah kenal tabiatnya itu. Tapi akhir-akhir ini saya merasa terganggu dan saya merasa seperti tinggal sendirian di rumah meskipun ada suami,” Bu Irma menjelaskan.
Ia pun melanjutkan, “Saya dan suami saya memang pasangan muda yang baru menjelajahi kehidupan berumah tangga. Meskipun sudah lama menjalin hubungan, tapi akhir-akhir ini saya merasa suami saya sedang menelantarkan saya. Saya mengerjakan pekerjaan rumah sendirian tanpa ada pembantu. Bahkan suami yang selalu saya tunggu setiap kali ia pulang bekerja, juga tak ada niatan membantu pekerjaan saya.”
Semua penghuni taman itu diam; ibu-ibu, para istri, penjual cilok, dan anak-anak. Semua orang menyimak cerita Bu Irma. Menurut mereka, ini merupakan kasus baru dan harus segera ditangani. Aliansi ibu-ibu itu pun menggodok sebuah skenario besar untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Bu Irma. Perempuan harus bersatu untuk melawan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh para suami. Minggu harus tetap menjadi hari kemerdekaan bagi istri, termasuk Bu Irma.
***
“Apa saja kerjaannmu, Mas?”
“Hari libur kamu masih malas-malasan. Apa kamu tidak tahu perjuanganku setiap hari membereskan rumah ini?”
“Jangan diam saja kalau diajak bicara, Mas.”
