“Oke. Jadi kamu merasa menjadi raja karena rumah ini dibeli dari harta warisan keluargamu? Jadi kamu menanggap aku ini hanya numpang di rumahmu? Aku ini hanya pembantu? Hah?”
Ibu-ibu dan para istri kompleks perumahan Kalirejo tampak dari jauh sedang memantau dan sebagian lagi mendekat untuk menguping drama rumah tangga pagi itu. Si laki-laki tampak terpojokkan dan si perempuan tampak masih belum selesai dengan cercaannya.

“Bahkan di hari minggu begini aku juga yang harus mencuci dan menjemur pakaian? Lalu kerjamu apa di hari minggu? Hah? Apa mentang-mentang karena kamu yang cari uang, kamu bisa seenaknya? Kalau saja kamu dulu tidak melarangku terus bekerja, aku pasti sekarang sudah di posisi yang bagus di bank. Apa kamu lupa itu?”
Si laki-laki itu masih terdiam. Kepalanya menunduk. Tampak dari kejauhan beberapa ibu bersorak sorai, tapi segera yang lain menahannya. Mereka kembali bersembunyi di balik tembok pagar rumah di depan rumah Bu Irma.
“Entah bagaimana kamu bisa mencukupiku. Padahal kamu hanya tukang ojek dan tanganmu tak pernah lepas dari HP. Atau, jangan-jangan kamu masih menyimpan sisa warisanmu dariku?”
Laki-laki itu tak menjawab, tetapi matanya melirik pada layar gawai yang digenggamnya.
“Lihat itu! Cuciannya belum dijemur!”
Bu Irma dengan tegas menunjuk pada ember berisi cucian yang belum dibilas.
“Aku tak mengerti. Kenapa kamu cepat berubah seperti ini? Kenapa kamu soalah iri denganku? Kamu menyuruhku membilas cucian itu? Tanpa kamu suruh aku pasti akan membilasnya. Aku memang sedang akan membilasnya sebelum kamu marah-marah seperti ini. Aku bilas sekarang.”
Dengan cekatan, laki-laki itu mengangkat cucian lalu membilasnya di kran air. Sementara itu Bu Irma masih tampak bersungut-sungut, melipat kedua tangannya di dada. Dan keriuhan terdengar dari balik pagar rumah depan. Ibu-ibu kompleks itu tampak kegirangan. Mereka tidak sadar bahwa dari balik jendela ada seseorang yang sedang memotret mereka menggunakan gawai.
Sementara itu, di seberang, Bu Irma yang tadinya merasa senang dan puas mendadak tertunduk. Lipatan tangannya terurai. Ia seperti baru menyadari suatu hal, atau sepertinya ia sedang merasa bersalah kepada suaminya itu.
Suami Bu Irma telah selesai membilas dan menjemur pakaian mereka. Ia lalu meninggalkan Bu Irma yang masih terdiam. Suaminya melewatinya begitu saja. Ia lalu bergegas mengambil gawai yang sebelumnya ia mainkan.
Dari layar gawai itu terlihat aplikasi sedang terbuka. Itu adalah aplikasi menulis teks dan terbaca sebuah judul tulisan “Lelaki yang Menjemur Pakaian”.
Bondowoso, 2022.
ilustrasi: SICA, Pameran Bersama Archives.
