“Tidak mungkin membawa kalian bertiga menumpang di rumah pakdhe,” lanjut ibu. “ Sedang di sini, ada rumah peninggalan bapakmu yang dapat ditempati. Mbah Putri juga tidak keberatan kita tetap di sini, karena ini adalah rumah kalian.”
***

Setelah telepon dari pakdhe terakhir itu, ibu tidak pernah menelepon lagi. Pun begitu dengan pakdhe. Rupanya selisih paham keduanya membuat pakdhe enggan peduli lagi kepada kami.
“Aku tidak bisa melarangmu, Lastri. Kamu masih muda. Kalau memang anak-anak harus tetap di sini, biarlah,” ucap Mbah Putri ketika malam itu datang ke rumah kami yang hanya berjarak dua ratusan meter.
Aku tidak tahu apa yang ibu sampaikan kepada Mbah Putri. Sepertinya pembicaraan yang sangat serius. Sebelumnya, yang aku tahu ada seorang laki-laki datang ke rumah kami. Laki-laki yang belum pernah aku kenal sama sekali.
Laki-laki itu nampak bicara serius dengan ibu, Mbah Putri dan Lik Gito. Lek Gito adalah adik dari almarhum bapak. Yang aku ingat, ibu memintaku untuk menyalaminya, dan lelaki itu memintaku untuk memanggilnya “bapak”.
Lelaki itu kemudian menjadi suami baru ibu. Setelah ijab kabul sederhana yang hanya dihadiri beberapa orang, tanpa Pakdhe Parmin, kakak kandungnya, ibu pergi bersama laki-laki itu. Kami bertiga ditinggal di rumah. Setiap hari Mbah Putri mengirim makanan untuk kami.
Ridho, adik terkecilku yang saat itu berumur empat tahun, sering sekali menangis menanyakan kapan ibu kembali. Aku tidak bisa menjawab. Karena aku juga tidak tahu kapan ibu akan pulang. Ketika berangkat bersama laki-laki itu, ibu hanya berpesan agar kami menunggunya, ibu pasti menjemput. Namun, sudah hampir setahun, ibu tidak pernah menjemput kami dan tidak pernah memberi kabar.
Setelah kepergian ibu, aku bekerja membantu di toko milik tetangga yang tidak jauh dari rumah. Meski usiaku baru lima belas tahun, aku harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk Rahim dan Ridho.
***
Sore itu sepulang kerja, aku melihat Ridho sedang memeluk seseorang. Dari belakang nampak perempuan itu sangat kurus. Rupanya dia adalah ibu. Ridho masih terus memeluk dengan erat, seperti takut jika lepas dan akan ditinggal kembali. Maklum saja, dia sudah menahan rindu hampir satu tahun. Melihatku datang, ibu menunduk. Menyembunyikan rasa takut, atau malu. Ibu kelihatan kusut dan kurus. Perbedaan yang lebih menonjol adalah perutnya yang membesar.
Ibu pulang dalam keadaan hamil sembilan bulan. Seorang diri. Tanpa ditemani lelaki yang dulu pernah memintaku memanggilnya bapak itu . Kemana dia? Aku tidak tahu. Aku juga belum mau bertanya kepada ibu. Tiba-tiba ibu menangis dan memelukku. Kami berempat, aku, ibu, Ridho, dan Rahim yang baru saja keluar dari rumah menangis sesenggukan sambil berpelukan erat.
“Maafkan ibu,” lirih suaranya. Kami, anak-anaknya, tidak ada yang menyahut. Hanya suara tangis kami yang menjawab.
Tidak lama kemudian Mbah Putri datang. Tangis ibu kembali pecah. Ibu memeluk dan berlutut di kaki Mbah Putri. Mbah Putri nampak kebingungan, kemudian mencoba mencari jawaban dari tangisan ibu.
Lepas maghrib, Mbah Putri, ibu, dan Lik Gito nampak berbicara serius. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Mbah putri memintaku untuk membawa Rahim dan Ridho menjauh. Sayup aku mendengar ucapan Mbah Putri, “ Ya sudah. Tinggallah lagi di sini. Urus anak-anakmu.”
