Keesokan harinya, ketika Rahim dan Ridho masih tidur, Mbah Putri, ibu, dan Lik Gito memanggilku. Mereka menjelaskan apa yang membuat ibu tiba-tiba pulang dan menangis. Ibu akan kembali tinggal bersama kami. Mengasuh dan merawat kami seperti sebelum ibu pergi. Tentu saja dengan bayi yang ada di dalam kandungannya jika sudah lahir nanti.
Bukan perkara yang mudah bagi ibu untuk tinggal di rumah ini kembali dengan keadaanya yang sekarang. Setelah ibu menerima lamaran laki-laki itu, ibu bukan lagi menantu Mbah Putri. Jika dulu sebelum menikah lagi, meski bapak sudah meninggal, ibu adalah menantu Mbah Putri dan ipar Lik Gito. Tetapi sejak dibawa pergi oleh suami barunya meninggalkan kami di rumah hanya bertiga, keadaan berbeda.

Banyak yang harus ditanggung oleh ibu. Omongan tetangga pasti pedas mengarah padanya. Meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Apalagi Ridho masih berumur empat tahun waktu ditinggalkan demi suami barunya, dan sekarang kembali dengan keadaan hamil. Untuk datang menemui Mbah Putri saja tentu berat sekali. Tetapi sepertinya ibu tidak ada piihan lain.
Setelah suami barunya meninggalkannya di rumah kontrakan di Bandung dalam kedaan hamil muda, ibu harus mencari makan dan membayar kontrakan sendiri. Ibu bertahan, berharap suami barunya datang menemui.
Ternyata, menjelang kelahiran bayinya pun, suami barunya itu tidak pernah kunjung kembali setelah membawa pergi kepingan-kepingan berwarna keemasan yang dulu dibelikan bapak sewaktu masih hidup. Kepingan yang kata bapak untuk persiapan kami sekolah.
Ibu benar-benar sudah jatuh dan tertimpa tangga. Demi melihat Ridho yang hampir setiap hari menatap ke jalanan menunggu ibu pulang, Mbah Putri menerima kedatangan ibu kembali.
Bayi dalam kandungan ibu sudah lahir. Kini sudah berumur tiga tahun. Kini anak yatim ibu ada empat. Bedanya tiga anak yatim karena memang bapak kandungnya sudah meninggal akibat kecelakaan. Sedangkan, satunya “yatim” karena bapaknya kabur entah kemana, bahkan sejak dia belum lahir.
Dulu aku berpikir, betapa malangnya nasih kami, aku, Rahim, dan Ridho karena ditinggal bapak ketika masih kecil. Ternyata bocah itu jauh lebih malang. Dia tidak pernah melihat bapaknya, lelaki yang dulu memintaku memanggilnya bapak itu.
Sebagai anak tertua, bebanku tentu jauh lebih berat sekarang. Harus menghidupi kami berlima. Sudahlah! Toh aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan. Menyalahkan ibu, juga sama saja. Ibu sudah sangat menderita. Tidak mungkin aku tambah dengan umpatan dan kemarahanku.
Mencari lelaki itu? Untuk apa? Bukankah lelaki itu memang tidak pantas masuk dalam lingkaran kehidupan kami? Setelah pergi membawa ibu dulu, dia juga tidak pernah mengirim kabar atau menemui kami. Bahkan membawa kabur kepingan emas peninggalan bapak, yang seharusnya untuk biaya sekolah kami.
****
Perjalanan dari Solo ke Semarang ini sangat istimewa bagiku. Setelah perjalanan jauh terakhirku sewaku bapak masih hidup dulu. Pak Sakir, pemilik toko tempat aku bekerja, mengajakku ikut bersama keluarganya ke Semarang untuk rekreasi. Hanya aku satu-satunya pegawai yang diajak. Mungkin Pak Sakir kasihan melihatku tidak pernah ke mana-mana. Hanya dari rumah ke warungnya setiap hari yang aku lalui. Atau karena aku dianggap pegawai yang paling rajin. Aku tidak tahu.
Sesampainya di tempat wisata, Pak Sakir mengajak kami memasuki rumah makan yang besar dan nampak hidangannya sangat lezat. Aku duduk di pinggir. Di sampingku ada seorang lelaki dan perempuan yang juga sedang makan. Begitu aku perhatikan, alangkah kagetntnya aku. Lelaki yang duduk tepat di sampingku itu adalah lelaki yang menjadi suami ibuku.
Dia tidak mengenaliku karena hanya bertemu dua kali. Itu juga sepintas. Kami tidak pernah terlibat percakapan yang lama. Tetapi aku sangat mengenalinya. Ketika dia membawa pergi ibu setelah ijab kabul dulu, aku perhatikan benar semua gurat wajahnya. Tidak ada yang terlewat sehingga meski bertahun-tahun tidak bertemu aku tetap mengenalinya.
Muncul keinginanku untuk menghampiri dan mendampratnya karena sudah menelantarkan ibu dan membawa pergi kepingan-kepingan warna keemasan itu. Tetapi untuk apa? Aku yakin kepingan itu sudah habis untuk perempuan yang ada di sampingnya. Dan toh aku juga tidak pernah mau dia menjadi bapak tiriku.
