“Kau pulang untuk memuaskan rindu atau dendam?” tanya janda itu tiba-tiba.
“Mungkin keduanya,” Barjo menjawab tangkas. Asap rokok kembali mengepul di depan mulutnya.

“Kalau kau memang mantab mau pergi, lunasi dulu semua utang-utangmu, Jo,” tegas Si Janda.
“Tentu Bik, akan aku bayar semuanya. Tapi setelah aku pulang kampung nanti. Kau tak perlu khawatir, uang hasil penjualan tanah warisan orang tuaku akan cukup buat aku tinggal di rumahmu ini bertahun-tahun lamanya,” Barjo menjawab lantas tertawa terkekeh-kekeh. Jarang sekali janda itu melihat Barjo tertawa. Ia merasa janggal.
Setelah kepulan-kepulan asap habis diisapnya. Setelah bergelas-gelas kopi ditandaskannya. Akhirnya Barjo membulatkan tekat untuk pulang. Jikalau kampungnya itu masih mau menerimanya, maka dia akan tinggal di sana. Namun jika tidak, dia akan jual tanah milik orang tuanya. Jikalau semua daratan tak ada yang mau menerimanya, dia akan merakit perahu dan hidup di atas lautan. Begitu tekadnya dalam hati.
***
“Sebaiknya kau tinggal di sini, Le. Tanah ini milik orang tuamu,” ujar seorang lelaki tua di depan Barjo. Dia telah sampai di kampung halaman sehari sebelumnya.
“Keinginanku saat ini hanyalah menuntut balas atas kematian kedua orang tuaku, Pakde,” jawab Barjo garang. “Akan kulumat nyawa Sardoko dengan tanganku ini.”
Lelaki tua itu terbengong dan bergidik ngeri mendengar jawaban Barjo.
“Apakah rumahnya tetap di balik bukit itu, Pakde?”
“Sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas kematian orang tuamu adalah Kiai Darsun, bukan lurah bodoh itu,” tukas lelaki yang dipanggil pakde oleh Barjo tadi. “Lurah Sardoko hanya menjalankan instruksi Kiai Darsun,” lelaki itu menambahi jawabannya disertai batuk kecil.
Barjo terdiam memahami maksud ucapan pakdenya. Selama ini orang yang dia ketahui sebagai yang paling berhak atas dendamnya adalah Lurah Sardoko. Nama Kiai Darsun tak pernah terlintas di benaknya. Dia masih ingat, sepuluh tahun yang lalu, dengan lidahnya yang fasih Sardoko telah mengusir dirinya, padahal waktu itu umurnya masih lima belas tahun. Bukan hanya itu, orang tuanya juga dia tangkap dan kabarnya ditembak mati tidak jauh dari kuburan desa itu. Lalu kenapa pakdenya mencatut nama Kiai Darsun?
“Kiai Darsun yang memegang pengaruh di desa ini. Lurah itu tunduk patuh jika disuruh olehnya. Jadi, jangan salah alamat menaruh rasa bencimu itu,” ucap paman Barjo meyakinkan.
Barjo terdiam, menakar alur pikirannya. Dia kemudian tersadar atas apa yang sebenarnya telah terjadi. Ungkapan-ungkapan kebencian ayahnya pada keluarga Kiai Darsun puluhan tahun yang lalu kini mulai teringat kembali. Cengkeraman tangannya menggenggam kuat. Tekadnya semakin bulat. Dendam harus terpuaskan!
Menjelang subuh udara begitu dingin. Angin berkesiutan di pohon-pohon beringin kemudian berembus perlahan di sudut-sudut pesantren. Di tempat lain suara para santri mengaji di gothakan-gothakan dan serambi masjid mengalun indah. Dari kamar mandi santri terdengar gemericik air wudhu menambah kesejukan suasana pagi.
Dengan bantuan tongkat kayu, Kiai Darsun berjalan tertatih-tatih menuju masjid sebagai rutinitasnya setiap pagi. “Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nashir,” bibirnya mengucap dzikir lirih sambil mengayunkan langkah. Rumah pengasuh pesantren itu memang terletak agak jauh dari masjid. Rumah yang mepet dengan masjid milik mendiang abahnya sudah di tempati adik bungsu Kiai Darsun itu.
