Tiba-tiba ada bayangan berkelebat menyongsong langkah kiai sepuh itu. Ia menyerang Kiai Darsun. Tubuh orang tua itu seketika tersungkur di tanah basah dan bersimbah darah. Dengan rasa sakit yang datang tiba-tiba itu, Kiai Darsun mencoba berdiri. Namun gagal, dia roboh lagi. Darahnya berceceran di tanah dan memerahkan baju putihnya.
“Rasakan sakitnya nyawa oncat dari ragamu Kiai! Ha-ha-ha,” pekik orang yang menyerang Kiai Darsun.

“Siapa kau anak muda?” tanya Kiai Darsun lemah. Tangannya memegang belati yang menancap di perutnya.
“Aku adalah anak lanang Samad yang telah kau bunuh sepuluh tahun yang lalu,” tukasnya dengan suara tangkas.
“Kau balas dendam padaku anak muda?”
“Tak perlu kau tanya itu, Kiai. Nikmatilah detik-detik terakhir kau menghirup napas yang segar ini!”
“Salah sekali kalau kau bilang aku membunuh Samad ayahmu itu anak muda.”
“Pembunuh mana yang mau mengaku jadi pembunuh?”
“Justru bapakmulah yang mencoba membunuhku, tapi ternyata gagal. Anak-anakku serta suadaraku menyelamatkanku. Namun kemudian mereka mati di tangan gembong PKI pimpinan bapakmu. Mereka tewas karena melindungiku,” suara Kiai Darsun tersengal-sengal. “Aku sama sekali tak menyuruh Lurah Sardoko untuk menangkap dan mengadili bapakmu. Itu sudah tugas mereka.”
Barjo berdiri memaku. Tubuhnya tiba-tiba terasa gemetar.
“Jangan mengada-ada, Kiai!” sergah Barjo mulai ragu.
“Aku bisa membuktikan kebenaran ucapanku, anak muda. Sayang sekali kau terlalu terburu-buru membunuhku. Sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Segera berlarilah menjauhi tempat ini sebelum santri-san-tri-ku me-nang-kap-mu…” suara Kiai Darsun mulai putus-putus.
Barjo terperangkap rasa bingung. Ucapan kiai pengasuh pesanten itu mungkin saja benar. Namun dia telah membunuhnya. Dari kejauhan kemudian terdengar teriakan. Para santri telah melihatnya duduk terbengong di samping tubuh Kiai Darsun yang lemah terkulai bersimbah darah. Cahaya lampu minyak tanah temaram yang terpasang di pinggir jalan menyinari tubuh sang kiai dan pembunuhnya.
“Ce-patlah per-gi. Aku su-dah me-maafkan-mu. Tapi me-re-ka tak akan per-nah bisa me-maaf-kanmu…”
Barjo berlari cepat. Namun sayang, dari semua arah, para santri Kiai Darsun telah mengepungnya.
Mentaraman, 14 Mei 2020
