Lelucon yang Tak Lucu

Maka mengalirlah kata-kata dari mulut Jauhari yang lebar itu.

“Rumahku berjarak seratus meter dari musala Miftahul Jannah, musala dekat perempatan jalan itu lo, Ran. Ha-ha-ha.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jiran mendengarkan sembari memelototi gawainya dengan tetap berusaha tertawa. Lalu datanglah Sugiono ke tempat itu, menyaksikan Jauhari yang bercerita diiringi tawa, disambut pula dengan tawa oleh Jiran. Sugiono pun berusaha tertawa untuk mengakrabi teman nongkrongnya itu. Takut dikira banyak utang kalau tak ikut tertawa ketika yang lain tertawa.

“Semenjak gagal jadi anggota DPRD itu, aku jadi selalu ingin salat di musala, salat berjamaah di sana. Bahkan pergi ke musala itu adalah hiburan yang paling kugemari. Ha-ha-ha.”

Kini rasa ingin tertawa mendengar tawa Jauhari mulai membuat Jiran jengah. Tapi dia tetap berusaha tertawa. Begitu pula dengan Sugiono.

“Dua hari yang lalu, aku baru tiba dari sawah ketika mendengar kumandang azan. Maka cepat-cepatlah aku menuju ke kamar mandi untuk kemudian mandi dan mengambil air wudhu. Aku kemudian melangkah cepat menuju musala. Ha-ha-huah.”

“Aku berhenti di tengah jalan karena sendalku tiba-tiba putus. Terpaksa aku melangkah dengan kaki dingklang. Ha-ha-ha. Tidak cukup di situ, setiba di musala aku diadang tahi ayam di tengah pintu. Ha-ha-ha. Marah sekali aku. Ha-ha! Tidak kuhiraukan karena khawatir ketinggalan jamaah. Aku terus melangkah masuk ke musala. Ha-ha.”

Sugiono melirik ke arah Jiran yang terus tertawa.

“Terlihatlah seorang anak kecil yang menjadi imam salat dengan makmum beberapa anak kecil pula. Dan anehnya seorang lelaki dewasa hanya menonton jamaah itu. Geleng- geleng kepala-lah aku, Ran, No.”

Tinggalkan Balasan