Selain memiliki kekayaan alam yang melimpah, kehidupan masyarakat Uluway sangat harmonis dan menjunjung tinggi sikap toleransi beragama. Hal ini terbukti, masyarakat Uluway tidak hanya memiliki satu agama. Masyarakat Uluway mayoritas beragama Islam, namun kerukuan dengan agama lain sangat terjaga. Bahkan, tak jarang dalam satu keluarga terdapat tiga agama yang dipeluk, yaitu Kristen, Islam, dan Aluk Todolo (sistem kepercayaan tradisonal sukuToraja).
Aluk Todolo mengajarkan nilai-nilai etika, persatuan, dan keseimbangan dengan alam semesta. Meskipun, kini masyarakat Tana Toraja, termasuk Uluway, banyak memeluk agama Islam dan Kristen, namun mereka tidak meninggalkan ajaran moralitas Aluk Todolo.

Meminjam istilahnya Emile Durkheim, Aluk Todolo dapat dikelompokkan sebagai Totemisme bagi masyarakat Tana Toraja. Meski kini memeluk agama pendatang Islam-Kristen, namun mereka disatukan pada ajaran moral Aluk Todolo.
Selain adanya beragam agama, ternyata Uluway menyimpan banyak tradisi yang masih eksis hingga hari ini. Tradisi tersebut antara lain Rambu Tuka’, Kerja Bakti, Mapakedek Banua, dan lain sebagainya. Selain tradisi juga terdapat beberapa ritual yang masih dilakukan masyarakat Uluway, misalnya Alok Todolo, Ritual Pertemuan, Rumah Adat Tongkonan, Ritual Pernikahan, dan lain sebagainya.
Dalam menajalankan tradisi ataupun ritual, masyarakat saling gotong royong, tidak peduli dari agama apa atau dari suku apa. Perbedaan agama bukan hambatan bagi masyarakat Uluway. Rasa kekeluargaan dan persaudaraan sangat dijunjung tinggi. Sikap seperti ini sudah seharusnya dicontoh di wilayah lain, terutama daerah-daerah yang sering terjadi konflik agama ataupun suku. Maka, tidak salah jika saya menyebut desa ini sebagai desa multikultural.
