Literasi di Bulan Ramadan

Kelima, melatih untuk sabar. Menulis juga sebagai ajang melatih diri untuk sabar dan tabah. Sebab, tidak jarang kita mendapati “block-writing” sehingga emosi kita memuncak. Hal seperti ini menjadi latihan kesabaran untuk tetap tabah menghadapi problematika dalam menulis.

Saat kita membangun sebuah rencana tulis menulis, kita dituntut untuk sabar membaca atau mencari referensi yang relevan. Mencari bahan bacaan yang sesuai diperlukan kesabaran atau ketabahan sehingga apa yang akan kita tulis mencapai kualitas yang kita harapkan. Dalam hal ini, sabar dan menulis adalah dua hal yang berbeda, tetapi (ber)sama dalam membangun karya tulis yang berkualitas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selain membaca, di dalam Al-Quran juga dijelaskan akan pentingnya menulis. Apa yang akan dibaca kalau tidak ada tulisan? —makna ini mengacu kepada literlasi membaca secara leksis. Maka menjadi penting antara membaca dan menulis itu sendiri.

Di dalam Al-Quran yang ditekankan pertama kali adalah pentingnya membaca. Ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah adalah tentang iqra (membaca). “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu paling mulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (manusia tersebut).” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Ayat tersebut menekankan pentingnya membaca (iqra) dan menulis (qalam). Maka Allah menggandengkan membaca dan menulis dalam ayat yang pertama kali turun. Hal ini menunjukkan bahwa menulis, dalam subyek bahasan kali ini, sebagai bagian yang teramat penting di dalam kehidupan ini.

Selagi masih ada waktu, mari kita ciptakan sejarah. Karena ketika kita telah menghadap Tuhan, Robbul ‘izzah, tidak ada yang dapat kita wariskan kecuali amal-amal kebaikan dan terutama naskah karya tulis yang akan terus dikenang. Insya Allah. Aamiin!

Wallahu A’lam bis Shawab!

Madura, 09 Ramadan 1442 H.

Tinggalkan Balasan