Langit senja di kampung halaman selalu mengingatkanku pada dongeng kakek: bintang jatuh adalah suratan takdir, gemericik sumur adalah bisik-bisik leluhur. Saat itu, Tuhan hadir dalam hal-hal kecil—semerdu doa ibu yang menenun malam, sesepi jangkrik di balik rerumputan, semisterius bayangan pohon nangka yang bergoyang seperti rahasia kuno. Dunia terasa utuh; logika dan rasa masih berpegangan tangan.
Namun kedewasaan membawa perpecahan. Sekolah mengajari kami membedah katak demi memahami kehidupan, kampus menyatakan hanya data yang sahih yang diterima, mesin pencari menjanjikan semua jawaban dalam 0,3 detik. Perlahan, kami belajar memisahkan diri: di satu sisi meja ada kalkulus dan teori evolusi, di sisi lain diam-diam tersimpan rindu pada keajaiban.

Lalu datang Tan Malaka dengan MADILOG-nya, bagai angin segar di tengah kebekuan dogma. “Jadilah merdeka!” bisiknya dari halaman-halaman buku usang. Materialisme mengajak kami menyentuh kebenaran melalui benda nyata. Dialektika melatih kami berdebat dengan hantu-hantu pemikiran. Logika menjadi pisau bedah yang membedakan fakta dari ilusi. “Inilah jalan revolusi,” katanya, “berpikirlah atau mati!”
Tetapi hidup kerap lebih liar daripada laboratorium. Ada malam-malam ketika spreadsheet tak mampu menjawab kegelisahan yang menggerogoti tulang rusuk. Algoritma tak mengenali kesepian di balik senyum dengan filter Instagram. Penjelasan logis hanya tumpah seperti koin dari saku bolong, sementara hati tetap menggantung di langit-langit, bertanya-tanya tentang sesuatu yang hilang.
