Logika dan Mistika: Dua Sayap yang Membawa Kita Terbang

“Orang berakal” (ulil albab) bukan sekadar robot penghitung data, melainkan penyelam yang mampu menukik ke samudera makna dengan akal dan kalbu sekaligus.

Di zaman algoritma ini, kita membutuhkan MADILOG lebih dari sebelumnya, untuk tetap kritis terhadap hoaks dan skeptis terhadap dogma. Namun kita juga merindukan ruang tanpa Wi-Fi: zikir yang tak perlu direkam menjadi podcast, keheningan yang tak diubah menjadi konten TikTok, doa yang hanya diketahui hujan dan malaikat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Karena kita terbuat dari tanah yang nyata dan debu bintang yang misterius. Kita dapat menghitung jarak Bumi ke Matahari hingga desimal terakhir, tetapi juga bisa menangis tanpa sebab saat mendengar azan maghrib. Mungkin keagungan kita terletak pada persimpangan itu: saat logika menuntun tangan kita membangun peradaban, sementara mistika membisikkan mengapa peradaban itu perlu dibangun.

Di senja yang bergerak pelan ini, aku mendengar lagi suara kakek: “Jangan kau potong sayapmu, Nak. Terbanglah dengan keduanya”

Tinggalkan Balasan