Logika, Iman, dan Kitab Kuning

Kesalahpahaman terhadap relasi logika, iman, dan bitab kuning lahir dari kebiasaan menyederhanakan warisan intelektual Islam. Padahal, jika ditelusuri dengan jujur, tradisi ini justru menawarkan sintesis yang matang: iman yang berakar, akal yang rendah hati, dan teks tang hidup dalam dialog.

Mungkin problem kita hari ini bukan terlalu banyak berpikir, melainkan terlalu cepat menutup ruang berpikir itu sendiri. Pesantren, kitab kuning, dan filsafat Islam sejatinya mengajarkan satu hal penting: bahwa beriman tidak berarti berhenti menggunakan akal, dan berpikir tidak harus berakhir pada keraguan. Keduanya bisa berjalan bersama, selama manusia bersedia belajar mendengarkan batas-batasnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sumber Rujukan:

al-Ghazālī, Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad. Al-Mustaṣfā min ʿIlm al-Uṣūl. Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, n.d.​

al-Ghazālī, Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad. Tahāfut al-Falāsifah (Kerancuan Para Filsuf). Terjemahan Indonesia. Yogyakarta: Nuansa Cendekia YYS, 2018.​

Averroes (Ibnu Rusyd). Tahāfut al-Tahāfut. Terjemahan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2025.​

Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011.​

Sanūsī, Muḥammad ibn Yūsuf. Umm al-Barāhīn. Terjemahan dan syarah dalam Logika Keimanan: Bukti Logis Kebenaran Akidah Islam. Jakarta: Penerbit Ataka, n.d.​

Tinggalkan Balasan