Dan sekarang, tagar #boikottrans7 semakin ramai di berbagai media sosial. Bahkan Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Bangkalan yang diketuai oleh KH Muhammad Isamil Al-Ascholi menyebarkan surat edaran boikot terhadap Trans7 sebagai bentuk ikhtiar agar media kembali menjalankan fungsi utamanya: mencerdaskan umat, bukan menyebarkan fitnah.
Dunia digital kini sudah menjadi ruang bebas bagi siapa pun untuk berbagi pikiran, berekspresi, dan berkomentar. Namun, meskipun begitu ada batasan-batasan yang harus dijaga.

Mengenai narasi dan framing sesat yang dibawa oleh Trans7 tadi, setidaknya ada hal penting yang dilupakan, yang menjadi penyebab narasi yang disampaikan oleh Trans7 menjadi begitu keliru dan menyesatkan.
Pertama, kurangnya pemahaman kultural terhadap dunia pesantren. Kesalahan paling mendasar adalah ketidaktahuan mereka terhadap budaya, nilai, dan adab yang hidup di lingkungan pesantren.
Kehidupan santri tidak bisa diukur dengan standar masyarakat umum, karena di pesantren segala perilaku memiliki dasar dan nilai, baik itu dari adab, kesederhanaan, dan penghormatan kepada guru dan ilmu. Sehingga, ketika orang luar melihat tradisi tersebut tanpa memahami maknanya, maka yang muncul hanyalah penilaian dangkal.
Kedua, pendekatan jurnalistik yang terlalu sensasional. Sebagai media hiburan dan informasi, Trans7 tampaknya lebih mementingkan daya tarik visual dan kehebohan judul dibandingkan akurasi makna. Kalimat “Santrinya aja minum susu kudu jongkok” jelas dipilih untuk menggugah emosi publik, bukan untuk mengedukasi. Inilah bentuk dari framing sesat — ketika fakta disusun sedemikian rupa untuk menimbulkan kesan tertentu, bukan untuk memberi pemahaman yang utuh.
