“Bagus.” Suara Raka terdengar sedikit ragu. Karena selama bekerja di sini, ini kali pertama Samsul bertanya tentang lukisannya. Pak tua itu beranjak dari tempat duduk, memandangi lukisan dari jauh dan tersenyum. Senyum itu membuat Raka tak tahan menyimpan pertanyaannya lebih lama lagi.
“Kenapa jarang ada yang beli lukisan Bapak ? Maaf kalau saya lancang. Malah lukisan Pak Tomi dan murid-muridnya yang lebih laris.”

“Ya, seni kan cuma soal selera. Berarti sudah rezeki mereka,” jawab Samsul kembali mendekat ke lukisannya.
“Saya memang bukan seniman, kalau boleh kasih saran, Bapak ikuti yang lagi ngetren. Biar cepat laku. Apalagi sanggar kita kan lumayan ramai Pak.”
Selain bekerja jadi tukang bersih-bersih di sanggar milik Samsul, Raka adalah saksi bisu awal mula sanggar tersebut beroperasi dengan bantuan para pegiat seni meskipun pemiliknya sendiri nihil pengalaman. Dengan sabar, Samsul belajar melukis pada Tomi. Mengikuti kelas yang digelar setiap pagi. Ikut bergabung dengan para kawula muda. Membina kerja sama dengan para kolektor dan kurator tersohor. Walaupun usianya sudah 70-an, postur tubuhnya tetap tegap dan tegas. Tangannya tak pernah alpa mencelup warna-warni cat, tenggelam dalam imajinasi. Hanya saja Raka menangkap satu kejanggalan. Karya milik Samsul sedikit sekali yang terjual. Hanya teman-teman dekatnya yang membeli. Hal tersebut dikuatkan oleh ocehan dari para pengunjung adan beberapa rekan kerjanya.
“Ide yang bagus, tapi laku atau tidak bagi saya yang penting senang.”
“Waktu Bapak tidak sia-sia? Saya lihat Bapak tekun sekali membuatnya.”
“Tidak ada yang sia-sia untuk pekerjaan yang dikerjakan dengan hati, Ka.” Samsul menepuk-nepuk punggung Raka dengan terkekeh kecil.
Kalimat itu lantas membungkam pemuda itu. Pertanyaan berikut tak lolos keluar dari mulutnya. Susah payah ia menelan ucapannya. Sebagai ganti, mata Raka justru menerawang pada bola mata di lukisan Samsul. Hitam pekat warnanya. Meski belum purna, ada pendar ketulusan yang ia rasakan. Tulusnya cinta Samsul pada mendiang istrinya, Kumala. Dengan gigih Pak Tua itu memenuhi keinginan terakhir istrinya. Foto Kumala di sebuah kanvas.
Dulu, Raka pernah bertanya perihal permintaan Kumala. Bukankah lebih mudah memesan lukisan pada seniman lain dibanding bertahun-tahun harus gigih belajar melukis dan mendirikan sanggar seni. Lagipula Samsul sendiri terbilang hidup cukup dengan kiriman uang dari anaknya, juga jatah pensiunnya.
“Ya, karena ingin mengenang,” jawabnya singkat.
“Waktu muda dulu saya terlalu sibuk bekerja sampai nggak sadar kalau Kumala itu cantik sekali,” gumam Samsul memuji potret lukisan sang istri dengan takjub.
